Aku mendapat nilai sembilan pada pelajaran sejarah. Soalnya tentang Charlemagne dan aku sudah tahu, apalagi tentang Roland dan pedangnya yang tidak patah. Papa dan mama sangat senang waktu mereka tahu nilailku dan papa mengeluarkan dompetnya dan ia memberikan padaku, tebak apa itu? selembar uang lima puluh ribu.
‘Ambil, anak pintar, kata papa.’Besok, belilah apa yang kamu mau.’
‘Tapi, sayang...’, kata mama, ‘Menurutmu, uang itu tidak cukup besar untuk anak kecil?’
‘Sama sekali tidak,’ jawab papa,’Ini saatnya Nicolas belajar mengenal nilai uang. Aku yakin dia akan menggunakan uang ini untuk sesuatu yang masuk akal, begitu
Aku menjawab iya, aku cium papa dan mama. Mereka sangat baik. Aku simpan uang itu di saku. Hal itu membuatku makan malam hanya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain untuk memegang sakuku, menjaga supaya uang itu tetap disitu. Itu benar kalau aku tidak pernah mempunyai uang sebanyak itu, uangku sendiri. Ya, tentu saja, beberapa kali mama memberikan uang cukup banyak untuk berbelanja di toko Pak Kompani, di pojok jalan, tapi itu bukan uangku dan mama selalu bertanya berapa uang kembalian dari berbelanja. Jadi ini bukan hal yang sama.
Ketika aku tidur, aku menaruh uangku di bawah bantal dan aku merasa sakit ketika tidur. Dan lalu aku bermimpi banyak hal, dengan orang yang wajahnya terpampang di kertas uang itu, yang melihat ke samping, dan menyeringai dan juga rumah besar yang ada di latar belakangnya menjadi toko Pak Kompani.
Paginya, ketika aku sampai di sekolah, sebelum masuk kelas, aku menunjukkan uangku kepada teman-temanku.
‘Apa yang akan kamu lakukan dengan uang itu?,’ tanya Clotaire.
‘Aku tidak tahu,’ jawabku,’Papa memberikan supaya aku mengetahui nilai uang dan sebaiknya aku menggunakannya untuk hal-hal yang masuk akal. Maunya, aku membeli pesawat terbang, yang sungguhan’.
‘Itu tidak bisa,’ jawab Jef, ’Kapal sungguhan harganya paling murah 10 juta?’
‘10 juta?’ tanya Jef,’Kamu bercanda. Papaku bilang kapal sunguhan harganya 30 juta, itu yang kecil.’
Kami pun tertawa. Karena Jef sering cerita apa saja. Ia benar-benar pembohong.
‘Kenapa tidak membeli peta?’ tanya Agnan kepadaku, si juara kelas dan anak emas ibu guru, ‘Ada banyak peta yang bagus, photo indah dan itu berguna.’
‘Kamu ingin aku menggunakan uangku untuk membeli buku? Dan lagi, selalu Tante Tata yang membelikanku buku-buku pada saat ulang tahunku atau waktu aku sakit. Aku juga belum selesai membaca buku yang kugunakan untuk bantalku.’
Agnan melihatku dan lalu ia pergi tanpa berkata sepatahpun dan dia menyiapkan diri untuk mengulangi pelajaran grammaire. Anak itu memang benar-benar gila.
‘Kamu harus membeli bola, sehingga kita bisa bermain bola bersama,’ kata Rufus.
‘Kamu bercanda,’ kataku,’Uang ini milikku. Aku tidak akan membeli sesuatu untuk orang lain. Dan lagi kalian harus mendapat nilai sembilan untuk Sejarah kalau kalian ingin bermain sepak bola.’
‘Kamu pelit,’ kata rufus,’Kamu mendapat nilai sembilan di sejarah karena kamu anak emas ibu guru, sama seperti Agnan.’
Sayang aku tidak bisa memberikan pukulan kepada Rufus, karena bel sekolah berbunyi dan kami harus masuk kelas secara berbaris. Selalu begitu, ketika kami mulai bersenang-senang teng, teng, kami harus masuk kelas. Dan ketika kami sedang berbaris, Al datang sambil berlari.
‘Kamu terlambat,’ kata Pak Bul, pengawas kami.
‘Itu bukan salahku,’ kata Al,’Masih ada roti lebih untuk sarapan tadi’.
Pak Bul menarik napas dalam-dalam dan dia menyuruh Al untuk berbaris dan membersihkan mentaga yang ada di dagunya.
Di dalam kelas, aku bilang kepada Al yang duduk di sampingku,’Kamu tahu apa yang kupunya?’ dan aku menunjukkan uangku.
Lalu ibu guru berteriak, ‘Nicolas kertas apa itu? Bawa ke depan cepat!’
Aku mulai menangis dan aku membawa uang itu ke depan dan ibu membelalakkan matanya,’Apa yang akan kamu lakukan dengan uang itu? tanyanya.
‘Aku belum tahu,’ Jawabku,’Papa memberikan uang karena nilaiku bagus untuk Sejarah Charlemagne.’ Aku melihat ibu guru berusaha untuk tertawa dan ini terjadi beberapa kali dan dia kelihatan cantik jika begitu. Dia mengembalikan uangku dan memintaku memasukkan ke dalam saku dan aku tidak boleh bermain-main dengan uang. Aku tidak boleh membeli yang tidak-tidak. Dan kemudian dia mulai bertanya kepada Clotaire dan aku tidak percaya kalau papanya akan memberikan uang untuk nilai yang ia dapatkan.
Pada saat istirahat, sementara yang lain bermain, Al merangkulku dan bertanya apa yang akan kulakukan dengan uangku. Aku bilang aku tidak tahu. Lalu dia bilang dengan uang
‘Kamu dapat membeli 50 batang coklat, bayangkan?’ kata Al,’ 25 batang untuk masing masing kita.’
‘Kenapa aku harus memberimu 25 batang? Tanyaku,’Uang ini punyaku.’
‘Biarkan dia sendiri !’ kata Rufus kepada Al,’Dia memang pelit !’
Dan mereka pergi bermain. Tapi aku tidak perduli. Apa yang bisa mereka lakukan untuk menggangguku dengan uangku?
Tapi ide Al sangat baik. Membeli coklat. Pertama, aku sangat suka coklat dan aku tidak pernah makan 50 batang coklat sekaligus bahkan di rumah nenek yang selalu memberikan apa yang kuminta.
Karena itu sepulang sekolah, aku berlari menuju toko roti. Pemilik toko bertanya apa yang ingin kubeli. Aku menunjukkan uangku dan ku bilang ini untuk 50 batang coklat, seperti yang Al katakan padaku.
Pelayan toko itu melihat uangku dan bertanya, ‘Dimana kamu menemukan uang itu, anak manis?’
‘Aku tidak menemukannya, mereka memberikan kepadaku.’
‘Mereka memberikan ini supaya kamu membeli 50 batang coklat? tanyanya.
‘Ya, benar.’ jawabku.
‘Ibu tidak senang dengan anak yang suka bohong. Kamu harus menaruh uang ini di tempat kamu menemukannya.’ Ketika ia memandangku sambil melotot, aku segera menyelamatkan diri dan aku menangis hingga sampai di rumah.
Aku menceritakan mama dan ia menciumku dan dia bilang kalau ia akan mengaturnya dengan papa. Dan mama kembali dengan uang seribu rupiah,’Belilah sebatang coklat,’ kata mama.
Dan aku senang. Aku akan memberikan sepotong untuk Al, karena dia temanku dan dengannya, kami selalu berbagi.
No comments:
Post a Comment