October 14, 2007

Kursi

Hari ini sekolah benar-benar hebat.

Pagi ini kami sampai di sekolah seperti biasa dan waktu Pak Bul (pengawas kami) membunyikan bel, kami segera mengatur diri dalam barisan. Lalu anak-anak kelas lain masuk ke dalam kelas masing-masing, sedangkan kami tetap berbaris di lapangan istirahat. Kami bertanya-tanya apa yangg terjadi, apakah ibu guru sakit dan kami akan dipulangkan. Tapi Pak Bul menyuruh kami diam dan tetap dalam barisan. Lalu kami melihat ibu guru datang bersama pak kepala sekolah; mereka berbicara sambil melihat kami, lalu pak kepala sekolah pergi dan ibu guru menghampiri kami.

‘Anak-anak,’ katanya,’Semalam pipa air bocor dan air menggenangi kelas kita. Para pekerja sedang memperbaiki, -Rufus kalau kamu tidak tertarik dengan apa yang ibu katakan, ibu minta kamu diam-, dan hari ini kita harus belajar di ruang cuci. Ibu minta kalian tenang, tidak membuat keributan dan memanfaatkan keadaan ini, -Rufus, peringatan kedua, kamu maju ke depan!’

Kami senang sekali, karena menggembirakan kalau ada perubahan di sekolah. Ini contohnya, sangat menyenangkan mengikuti ibu guru turun melewati tangga dari batu menuju ruang cuci. Kami kira, kami sudah mengenal baik sekolah kami, tapi ternyata masih ada tempat seperti ini, yang kami tidak tahu, karena tempat ini terlarang. Kami sampai di ruang cuci, tempatnya tidak terlalu besar dan di dalam tidak ada kursi, yang ada hanya bak cuci piring, panci untuk memasak air dan handuk.

‘Oh iya,’ kata ibu guru, ‘kita harus mengambil kursi di ruang makan.’

Lalu kami mengacungkan jari dan mulai berteriak ‘Saya saja yang kesana, Bu! Saya, Bu! Saya! Ibu guru segera mengetukkan penggaris di bak cuci piring yang menghasilkan suara lebih pelan dibanding ketika ia memukulkan penggaris di mejanya waktu di kelas.

‘Diam!’ teriak ibu guru.’Kalau kalian terus berteriak, tidak ada yang akan mengambil kursi dan kita semua akan belajar sambil berdiri! Dengar, kamu Agnan, dan lalu Nicolas, Jef, Eudes dan…dan…dan Rufus -meski sedang dihukum-, kalian pergi ke ruang makan, jangan sampai ribut dan disana mereka akan memberikan kursi kepada kalian. Agnan, kamu yang paling berakal, ibu percayakan kamu sebagai penanggung jawab tugas ini.’

Kami semua keluar dari ruang cuci dengan sangat senang dan Rufus bilang kalau kami akan bersenang-senang.

‘Jangan ribut!’ perintah Agnan.

‘Hei kamu, anak emas ibu guru, jangan ikut campur!’ teriak Rufus,’ Aku akan diam kalau aku mau!’

‘Tidak, tidak tuan!’ teriak Agnan, kamu harus diam kalau aku suruh diam karena ibu guru bilang kalau aku yang memimpin tugas ini dan aku juga bukan anak emas ibu guru, aku akan laporkan kamu nanti!’

‘Kamu ingin aku pukul? ‘tanya Rufus dan ibu guru membuka pintu.

‘Bagus! Selamat!’ harusnya kalian sudah kembali, tapi ternyata kalian malah bertengkar di depan pintu ! Max gantikan Rufus. Rufus kamu ibu hukum, kembali ke kelas!’

Rufus bilang kalau itu tidak adil dan ibu guru bilang kalau itu penghinaan buatnya, dan ibu guru mengingatkan sekali lagi kalau Rufus terus melanjutkan, ia akan menghukum lebih kejam dan Jo menggantikan Jef yang bertingkah aneh.

‘Akhirnya kalian datang juga,’ kata Pak Bul yang telah menunggu kami di ruang makan. Dan ia memberi kami kursi dan kami harus bolak balik, dan karena kami sedikit bercanda di lorong dan tangga, Clotaire menggantikan Eudes dan aku digantikan Alceste, tapi sesudahnya aku menggantikan Jo dan waktu ibu guru tidak memperhatikan kami, Eudes mengambil lagi kursi tanpa menggantikan siapapun lalu ibu guru bilang kalau kursinya kebanyakan dan ia ingin kami tenang sedikit, dan Pak Bul dating dengan tiga kursi. Dia benar-benar kuat, dan dia bertanya kepada ibu guru, apakah kursinya sudah cukup dan ibu guru bilang kalau kursinya kebanyakan dan kami tidak dapat bergerak dan harus dikembalikan beberapa kursi. Dan kami semua segera mengacungkan jari sambil berteriak ‘Saya Ibu! Saya!’ tapi ibu guru mengetukkan penggaris di panci pemasak air dan Pak Bul yang membawa kursi.

‘Atur kursi ini membentuk barisan,’ perintah ibu guru.

Lalu kami mulai mengatur kursi dan ada banyak kursi dimana-mana, di setiap sudut dan ibu guru sangat marah, dia bilang kami tidak bisa membantu dan dia akhirnya yang mengatur kursi menghadap tempat cuci piring dan dia menyuruh kami duduk; Jo dan Clotaire mulai saling mendorong karena mereka berdua ingin duduk di kursi yang sama yang ada di bagian belakang.

‘Apa lagi ?’ tanya ibu guru,’kalian tahu ibu sudah cukup dengan apa yang kalian lakukan?’

‘Ini tempat saya, Bu’ kata Clotaire,’ Di kelas kelas saya duduk di belakang Jef.’

‘Bisa jadi,’ kata Jo,’Tapi di kelas Jef tidak duduk di samping Alceste. Jef harus pindah tempat dan kamu duduk di balakangnya. Dan ini tempatku, persis di samping pintu.

‘Saya mau sekali menukar tempat, kata Jef sambil berdiri, tapi Nicolas harus pindah karena Rufus….’

‘Ini tidak akan pernah selesai,’ kata ibu guru Clotaire, kamu pindah ke pojok!’

‘Pojok yang mana, Bu?’ tanya Clotaire.

Sebab benar, di kelas Clotaire selalu di pojok yang sama, yaitu di kiri papan tulis, tapi di ruang cuci ini semua berbeda dan Clotaire belum terbiasa. Ibu guru sungguh tegang dan dia bilang kalau Clotaire tidak diam dia akan memberi nol dan Clotaire tahu kalau saat ini bukan waktunya bercanda dan dia memilih pojok di sisi lain tempat cuci piring.

Jo duduk dengan gembira di belakang. Tapi ibu guru bilang,’Tidak Jo, tidak semudah itu, kamu pindah ke depan sehingga ibu bisa mengawasimu dengan mudah? Dan Eudes harus berdiri untuk memberi jalan bagi Jo, kami semua berdiri dan ibu segera mengetuk penggaris ke handuk sambil berteriak,’Diam! Duduk! Semua duduk! Kalian dengar!’ Dan lalu pintu terbuka dan pak kepala sekolah masuk.

‘Berdiri!’ kata ibu guru.

‘Duduk! kata pak kepala sekolah.

‘Baik selamat ! disini benar-benar ribut ! Suara kalian terdengar dimana-mana di sekolah. Seperti perlombaan kuda di lorong, teriakan, memukuli handuk, hebat! Orang tua kalian pasti bangga dengan kalian kerena kalian berlaku seperti orang liar, kalau seperti ini terus, kalian bisa masuk penjara dan akan dikenal!’

‘Pak kepala sekolah,’ kata ibu guru yang sangat baik seperti biasa dan selalu membela kami,’Mereka agak gugup dengan tempat yang ini, sehingga tadi ada sedikit kekecauan, tapi mereka sudah tenang sekarang.’

Lalu pak kepala sekolah tersenyum lebar dan berkata,’Tentu ibu guru! Saya paham. Anda tentu dapat mengatasi murid-murid anda. Pekerja berjanji kalau kelas anda akan siap besok pagi sebelum anak-anak datang. Menurut saya berita bagus ini akan menenangkan mereka.‘

Ketika pak kepala sekolah pergi, kami semua senang karena semuanya akan dibereskan, sampai waktu bu guru mengingatkan kami kalau besok adalah kamis. Dimana kami biasa menerima hukuman setelah pulang sekolah.

No comments: