October 15, 2007

Pelajaran Rambu Lalu Lintas

Sering ketika pergi ke sekolah, kami bertemu beberapa teman dan pada saat itu kami bercanda. Kami melihat jendela-jendela toko, menjegal kaki teman, menjatuhkan tas kami dan lalu sesudahnya kami terlambat dan kami harus berlari untuk sampai di sekolah, seperti siang ini, dengan Alceste, Eudes, Rufus dan Clotaire yang tingggal tidak jauh dari rumahku.

Kami berlari ketika menyeberang jalan untuk masuk ke sekolah (bel telah berbunyi) ketika Eudes menjegal kaki Rufus, yang jatuh dan bangun, ia bilang ke Eudes, sini, kalau kamu berani ! tapi Eudes dan Rufus tidak dapat berkelahi karena pak polisi ada disana mencegah mobil_mobil yang akan menyerempet kami, ia memanggil kami semua ke pinggir jalan dan dia bilang

Darimana kalian belajar menyebarang seperti itu ? Guru kalian tidak mengerjarkan di sekolah? kalian akan celaka jika bertingkah seperti badut waktu menyebrang. Yang membuat Bapak heran dalah kamu, Rufus. Bapak ingin sekali berbicara dengan papamu.

Papa Rufus adalah seorang polisi dan semua polisi kenal dengan papanya dan ini sering membuat Rufus kesal

‘Jangan Pak Badoule, kata Rufus, saya tidak akan mengulanginya lagi, dan lagi ini salah Eudes, ia membuat saya jatuh.

‘Dasar kecoa!’ Teriak Eudes

‘Kesini, kalau kamu berani!’teriak Rufus

‘Diam! Teriak pak polisi! Ini tidak boleh diteruskan, Bapak akan menyelesaikan masalah ini. Kalian telah terlambat.’

Kami pun masuk ke skolah dan pak polisi memberi tanda ke kendaraan untuk berjalan

Ketika kami selesai istirahat, pada jam terakhir, ibu guru bilang kepada kami,’

Anak-anak kita tidak akan belajar struktur seperti yang tertulis di jadwal pelajaran….’ Kami semua serentak berteriak, ‘hore’ kecuali Agnan, si anak emas ibu guru yang telah tahu seluruh pelajaran. Ibu guru mengetukkan penggaris ke mejanya dan berkata, diam! Kita tidak akan belajar struktur karena baru saja ada kejadian serius. Pak polisi yang melindungi keselamatan kalian telah melapor kepada bapak kepala sekolah. Beliau bilang kalau kalian telah menyebrang jalan seperti anak liar, sambil berlari dan bertingkah seperti badut yang dapat membuat diri kalian celaka. Ibu harus bilang kalau ibu sendiri sering melihat kalian berlari di jalanan. Jadi untuk keselamatan kalian, pak kepala sekolah meminta ibu untuk mengajarkan kalian tentang rambu lalu lintas? Jef, kalau yang ibu sampaikan tidak menarik untukmu, tunjukkan sopan-santunmu dengan tidak mengganggu konsenrasi teman-temanmu. Clotaire! Apa yang baru ibu katakana? Clotaire pun berdiri di depan kelas, ibu guru menarik napas dalam-dalam dan dia bertanya

Siapa yang tahu apa itu rambu lalu lintas ? Agnan, Max, Jo, aku dan Rufus mengacungkan jari

‘Baik, coba kamu, Max ?’ kata Ibu guru

Rambu lalu lintas adalah buku kecil yang diberikan pada waktu ikut sekolah mengemudi dan kita harus mempelajarinya baik-baik kalau kita ingin mendapat SIM. Mama saya punya satu tapi mama tidak mendapat SIM, sebab penguji memberi mama soal yang tidak ada di buku.’

‘Baik, cukup Max,’ kata Ibu guru.

Dan lalu mama saya bilang kalau ia mau pindah sekolah mengemudi, karena mereka berjanji kalau mama akan mendapat SIM, Ibu bilang cukup Max! Duduk! teriak ibu guru. turunkan tanganmu Agnan, ibu akan bertanya padamu, nanti. rambu lalu lintas adalah kumpulan peraturan yang mengatur keselamatan pengguna jalan. Bukan hanya untuk pengendara bermotor, tapi juga untuk pejalan kaki, untuk menjadi pengendara bermotor yang baik,diawali dengan meenjadi pejalan kaki yang baik; dan kalian ingin menjadi pengendara bermotor yang baik, bukan? Baik, dengar siapa tahu apa tanda bahaya waktu menyebrang jalan? Ya kamu Agnan.

‘Hah dia!,’ kata Max, ‘Dia tidak pernah menyeberang sendiri; mamanya selalu mengantar dan menggandeng tangannya.

Itu tidak benar! Teriak Agnan, saya berangkat sendiri ke sekolah dan saya tidak pernah digandeng mama.

‘Diam! teriak ibu guru,’Kalau kalian terus seperti ini, kita akan belajar struktur dan rugi buat kalian nanti karena kalian tidak akan mampu mengendara dengan baik dan Max kamu ibu hukum dengan menulis,’Saya akan hati-hati saat menyebrang jalan dan akan menunggu hingga jalanan kosong dan tidak akan berlari di jalan;’

Ibu guru menuju papan tulis dan menggambar empat garis yang saling bertemu.

‘Ini adalah perempatan jalan, jelas ibu guru,’Untuk menyebrang, kalian harus mengambil jalan yang disediakan untuk pejalan kaki, disini, disini, disini dan disini, kalau ada pak polisi disana, kalian harus menunggu sampai ia memberi tanda menyebrang, kalau ada lampu rambu lalu lintas kalian harus memperhatikan dan tidak menyebrang sampai lampu hijau menyala untuk kalian.dan jangan lupa untuk selalu melihat ke kiri dan ke kanan sebelum kalian menyebrang dan ingat, Jangan berlari! Nicolas ulagi apa yang baru ibu katakan!’

Aku mengulangi dan aku mengatakan hampir seluruhnya, kecuali soal lampu rambu dan ibu guru bilang itu bagus dan ibu memberi nilai 18. Agnan dapat nilai 20 dan hampir semua mendapat nilai antara 15 dan 18, kecuali Clotaire, karena ia dihukum berdiri di depan kelas, ia bilang kalau ia tidak tahu kalau ternyata ia harus mendengar penjelasan ibu guru.

Kemudian pak kepala sekolah masuk.

‘Berdiri!’ kata ibu guru.

‘Duduk!’ kata pak kepala sekolah.

‘Baik, Ibu guru, anda sudah memberikan pelajaran rambu lalu lintas kepada murid-murid anda ?’

‘Sudah, pak kepala sekolah,’ kata ibu guru,’Mereka semua sangat baik dan saya yakin kalau mereka mengerti semuanya.

Lalu pak kepala sekolah tersenyum lebar dan dia bilang

‘Bagus ! Sempurna ! Saya harap, saya tidak lagi mendapat laporan dari pak polisi mengenai kelakuan murid-murid saya, akhirnya kita akan lihat seperti apa praktik di lapangan.’

Pak kepala sekolah keluar dan kami semua duduk dan bel berbunyi, kami berdiri, siap untuk keluar tapi ibu guru bilang

‘Tunggu dulu, kalian akan turun dengan hati-hati dan ibu ingin lihat kalian menyeberang jalan. Kita akan lihat apakah kalian paham pelajaran tadi.

Kami keluar sekolah bersama ibu guru dan ketika pak polisi melihat kami, ia tersenyum. Ia menghentikan kendaraan yang lewat dan memberi tanda kepada kami untuk menyeberang, ‘Ayo anak-anak!’ kata ibu guru, dan jangan berlari! Ibu lihat dari sini.

Lalu kami pun menyebarang, hati-hati, satu persatu dan ketika kami sampai di seberang, kami melihat ibu guru berbicara dengan pak polisi di seberang jalan dan Pak kepala sekolah melihat kami dari jendela kantornya.

‘Bagus anak-anak,’ teriak ibu guru, ‘Ibu dan pak polisi bangga terhadap kalian, sampai besok anak-anak!’

Lalu kami pun kembali menyebrang jalan sambil berlari untuk melambaikan tangan kepada mereka.

No comments: