October 29, 2007

Nadia Cinta Arnold yang Cinta Vivi (yang tidak cinta siapa-siapa)

Cerpen Dewi Fatmawati

Minggu pagi aku janjian dengan Nadia untuk melihat pameran kerajinan di JHCC. Seingatku, kami berjanji untuk bertemu di stand dekat pintu masuk pukul 10 pagi, tapi selama hampir sejam aku disini, dia belum juga datang. Kesal, tapi itulah Nadia. Ada saja yang membuatnya terlambat.

‘Vivi! panggilnya tak jauh dari tempatku. Aku segera melambaikan tangan ke arahnya. Dia pun datang tergopoh-gopoh menuju arahku.
‘Maaf ya aku terlambat, aku tadi mesti masak dulu, soalnya mami nginep di tempat tanteku dari semalam, jadi aku mesti buat sarapan dulu,’ katanya sambil menunjukkan penyesalannya.
‘Ya, ya, ya, gak apa, Nad. Tadi sambil menunggu aku sudah keliling, koq,’ jawabku
Kami pun berjalan menuju stand produk kerajinan nasional yang unik dan menarik. Baru beberapa langkah kami berjalan, Nadia mulai menyita perhatianku dengan segala kegusarannya.
‘Vi, Arnold jahat sekali,’ katanya dengan wajah memelas.
‘Kenapa lagi Nad? tanyaku, sembari melihat sebuah rak buku yang tampilannya sangat minimalis.
‘Dia sulit sekali aku temui. Smsku gak pernah dibalas, telponku gak mau diangkat, huh.’ katanya kesal.
‘Sibuk, kali,’ jawabku sekenanya.
Aku benar-benar suka dengan rak ini. Kubayangkan kalau dia ada di kamarku, tentu akan sangat menarik.
‘Enggak Vi, aku tahu, dia memang gak mau bertemu aku,’ kata Nadia.
‘Ya sudah, kamu biarkan saja dulu. Nanti juga kalau sempat, dia akan balas,’ benar-benar sempurna rak ini, pikirku.
‘Ya, gak bisa gitu dong Vi, bagaimana dengan hubungan kami ? Gugat Nadia.
Tiba-tiba dia sudah berdiri di depanku, menutupi pandanganku dari rak buku itu.
‘Lho memangnya kalian punya hubungan apa?’ tanyaku sembari menatap matanya. Aku agak kaget dengan pernyataannya terakhir.
'Aku kan serius sama dia' jawabnya penuh keyakinan.
'Kamu yakin Nad ingin serius dengan dia? Rasanya aku sudah sering bilang kalau Arnold itu tipe lelaki yang tidak ingin terikat. Dia senang bermain-main dengan perempuan, Nad.'kataku sembari menatap matanya lekat-lekat.
Nadia terbungkam. Wajahnya menampakkan kesedihan dan di matanya tampak berkabut. Nadia, Nadia selalu begini. Mudah sekali terbawa perasaan. Aku tunggu kalimat lanjutnya.
‘Aku gak tau. Aku bingung vi. Dia memang gak pernah bilang kalau kami punya hubungan,’ katanya akhirnya.
So? Tanyaku menunggu.
‘Tapi aku benar-benar sayang sama dia,’ Katanya dengan wajah yang begitu memelas.
Aku mengangkat pundak. Aku tidak tahu lagi bagaimana meyakinkan temanku ini kalau lagi-lagi ia salah mencintai pria.
Kami pun berjalan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
‘Vi, kamu kan sering ketemu Arnold, tolong sampaikan salamku, ya’ katanya akhirnya dengan sisa-sisa semangat yang masih dimilikinya.
‘Ok.’kataku pelan
‘Terima kasih, Vi. Kamu memang baik sekali.’ Katanya sembil merangkul pundakku. Kami pun berjalan lagi menyusuri stand-stand yang berjejer manggugah minat.
---

Pukul tujuh pagi, parkiran kantor masih kosong. Sengaja aku datang lebih pagi karena aku membawa mobil. Terlambat 10 menit saja maka sudah pasti aku tidak kedapatan parkir.
‘Halo Vi, apa kabar? sapa Arnold, lelaki pujaan Nadia, yang juga rekan kantorku namun beda divisi. Dia baru juga sampai dan telah memarkir mobilnya di sebelahku.
‘Baik, kamu gimana, Nold? Tanyaku.
Perfect. Weekend kemarin kamu kemana, Vi? tanyanya sembari memamerkan deretan gigi putih dan senyum pepsodent andalannya. Tidak ketinggalan kedipan mata yang bagiku terasa memualkan. Dia mencoba menyamai langkahku menuju pintu masuk kantor.
‘Ada deh, mau tahu aja,’ jawabku sembari berjalan cepat. Gerah rasanya berada dekat dengan si pencari perhatian ini.
‘Ah, kamu Vi, begitu aja pakai rahasia segala’ katanya dengan wajah merengut.
‘Oh iya, Nold,’ aku menghentikan langkahku karena aku ingat pesan Nadia. ‘Kamu dapat salam dari Nadia, dia tanya kenapa sms dia gak pernah dibalas’ kataku yang telah berada di depan ruang kerjaku. Aku tunggu Arnold yang berjalan beberapa langkah di belakangku.
‘Aduh, anak itu lagi.
Aku capek jawab sms dan teleponnya. Sering banget. Sehari bisa lebih 20 kali. Aku kan sibuk. Mana bisa aku kerja kalau aku harus jawab telepon dia terus,’ katanya dengan muka yang langsung berubah menjadi kurang semangat.
‘Ya, kamu balas deh sekarang. Penasaran banget dia sama kabar kamu,’ lanjutku.
‘Nanti deh.’ Katanya malas, ’Oh iya nanti siang kamu makan siang dimana, Vi? tanyanya dengan wajah yang kembali gembira lengkap dengan kedipan mata.
‘Belum tahu, nanti deh kupikir,’ jawabku singkat dan aku segera masuk ke ruang kerjaku.
‘Ah, kamu Vi, misterius banget,’ katanya sambil senyum dan menggelengkan kepala.
---

‘Upps, masih dikantor, Vi! Sudah jam 8 lho ? Masih ada kerjaan? tanya Arnold yang tanpa kusadari dia sudah ada di depan mejaku.
‘Sedikit lagi Nold, tinggal ngedit satu tulisan lagi,’ kataku tanpa mempedulikannya. Aku benar-benar dikejar dealine.
‘Aku tunggu, ya ? Aku ingin pulang sama kamu malam ini,’ ajaknya.
‘Aku bawa mobil Nold, aku bisa pulang sendiri,’ kataku.
Gak apa, aku bisa tinggal mobilku di kantor.
Aku ingin nebeng sama kamu, boleh kan?’
‘Aduh, kamu tuh maksa banget, Nold,’ kataku sambil memandangnya sekilas.
‘Sorry Vi, aku butuh teman ngobrol nih, please tolong aku dong,’ katanya memelas.
‘Terserah deh,’ kataku akhirnya.
‘Kutunggu di pos satpam ya,’ katanya dengan penuh kemenangan.
---

‘Aku kesal sama Nadia, Vi. Dia ngejar-ngejar aku terus. Dia tuh seperti anak kecil yang tidak bisa mengerti arti kata tidak. Kalau tidak, ya tidak.’ Katanya kesal. Ia di sampingku sembari membuang asap rokok ke luar jendela mobil.
‘Memang seperti apa sih hubungan kalian,’ tanyaku sambil tetap berkonsentrasi dengan kemudi.
‘Upps, kita gak punya hubungan apa-apa. Kita memang pernah jalan, tapi ya aku anggapnya itu hanya sekadar jalan. Tapi dia anggap itu serius,’ katanya dengan kepulan asap yang terus keluar dari mulutnya.
‘Masa kalau hanya sekadar jalan, dia sampai mengejar-ngejar kamu gitu,’ tanyaku tidak percaya.
‘Aduh Vi, kamu tuh naif banget sih.
Ya, jelas bukan sekadar jalan, we were having fun, you know lah,’ katanya penuh isyarat.
‘Kamu memang brengsek, Nold!’ kataku sembari mengerem mobil sedikit di depan garis lampu merah. Kulihat kanan kiriku kemungkinan ada polisi di sekitar tempat ini.
‘Wow, don't get mad my dear, it's normal in our age. Kita sudah dewasa, bukan? Yang tidak dewasa adalah Nadia. Dia menggangap setelah apa yang kami lakukan, maka kami akan terikat selamanya. it's not normal right?’
‘Kamu tidak berubah, Nold, you're still a jerk!’ kataku kecewa.
‘Hei, mana Vivi yang open mind, aku tidak minta kamu menjadi orang suci, aku minta pendapatmu bagaimana aku mengatasi masalahku dengan kawanmu yang kekanak-kanakan itu,’ Katanya sedikit emosi.
‘Sejak bertemu kamu, Nadia benar-benar suka kamu, Nold. Tapi, karena aku kenal kamu, aku bilang kalau tidak ada gunanya memikirkan orang seperti kamu. Tapi dia keras kepala. Aku sudah sering bilang sama dia untuk hati-hati waktu kenal sama cowok. Untuk punya hubungan serius, gak bisa buru-buru. Gak bisa sekali ketemu langsung jadi,’ jelasku.
‘Betul. Aku juga gak nyangka kalau Nadia itu childish sekali, tidak seperti cewek-cewek yang kukenal,’ lanjutnya.
‘Aku salah membawa dia ke pesta tahun baru di kantor kita. Gara-gara kenal sama kamu, sekarang dia stress mikirin kamu.’
‘Hei, itu bukan tanggung jawabmu untuk menjaga bayi raksasa itu. Dia sudah besar, dia tahu risiko atas semua yang dia lakukan.’ katanya serius.
‘Ya, tapi kadang aku kasihan sama dia.'
Well, this is the other side of my lovely girl, Vivi! Dari luar kamu terkesan keras dan cuek, tapi hatimu begitu lembut.' Katanya dengan tatapan mata yang selalu sama ketika memandangku. Aku mengalihkan perhatianku keluar jendela. Sebal dengan rayuan gombalnya.
‘Kamu semakin manis saja, kalau sedang marah, Vi’ godanya dengan mata yang penuh isyarat.
You’re jerk, Nold!’ balasku dingin.
Yes, and I still love you, Vi!’ katanya serius
Aku diam. Hatiku kesal, selalu begini bila bersamanya. Tapi, kalau dipikir-pikir ingin rasanya aku tertawa. Arnold pun tidak jauh berbeda dengan Nadia, dia sendiri tidak dapat menerima penolakan dariku, bertahun-tahun yang lalu. Ugh, udara di dalam semakin panas dan kalau bisa aku ingin sekali mendorong Arnold keluar dari mobil ini. (281007)

No comments: