October 14, 2007

Nenek datang

Aku sungguh senang karena nenek berkunjung beberapa hari di rumah. Nenek adalah mama dari mamaku. Aku sangat sayang padanya dan dia memberikan banyak kado yang hebat.

Papa harus pulang lebih cepat dari kantornya siang ini untuk menjemput nenek dari kereta, tapi nenek datang sendiri dengan taxi.

‘Mama,’ teriak mama, ‘Mama datang lebih cepat !’

‘Ya, kata nenek.’Sebab aku naik kereta yang jam 15h47 bukan yang 16h13. Aku pikir tidak perlu menelpon kalian untuk memberitahu hal ini. Oh cucuku sudah besar. Kelinci kecilku. Kemari, beri nenek ciuman. Kamu tahu nenek punya banyak kejutan untukmu di koper besar yang nenek tinggal di penyimpanan di stasiun. Ngomong-ngomong suamimu mana ?’

‘Hmm,’ jawab mama. ‘Justru itu, dia menjemput mama di stasiun. Kasihan dia.’

Hal itu membuat nenek tertawa dan dia tertawa lagi waktu papa datang.

‘Nenek ?’ teriakku, ‘Mana kadonya ?’

‘Nicolas ? kamu bisa diam tidak ? kamu tidak malu ?’ tanya mama.

‘Dia benar, malaikat kecilku,’ kata nenek. ‘Karena tidak ada yang menjemputku di stasiun, aku memilih menitipkan koperku di tempat penyimpanan. Koper itu sangat berat, kupikir menantuku dapat mengambilnya.’

Papa memandang mama dan ia pergi lagi tanpa berkata sepatahpun. Ketika dia datang, wajahnya kelihatan letih, itu karena koper nenek sangat berat dan besar dan papa harus membawanya dengan kedua tangan.

‘Apa yang mama bawa di dalamnya?’ Tanya Papa ,’Batu ?’

Papa keliru. Nenek tidak membawa batu tapi ada mainan konstruksi buatku, mainan bebek (aku sudah punya 2) bola merah, mobil kecil, truk pemadam kebakaran dan kotak musik.

‘Kamu dimanjakan sekali,’ teriak mama.

‘Terlalu dimanja, Nicolasku ? Cucu kesayanganku ? Malaikatku?’ tanya nenek, ‘Sama sekali tidak. Kemari, cium nenek.’

Setelah dicium, nenek bertanya dimana dia akan tidur agar ia dapat segera menata barang-barangnya.

‘Tempat tidur Nicolas terlalu kecil,’ kata mama, ‘Ada sofa di ruang tamu, tapi kalau tidak keberatan, mama bisa bersamaku di kamar……’

‘Oh tidak, tidak apa’, kata nenek,’ Aku akan senang tidur di sofa, sciatiqueku hampir tidak pernah terasa sakit lagi.’

‘Oh tidak! Jangan!’ kata mama, ‘Kami tidak dapat membiarkan mama tidur di sofa, benar begitu, Sayang?’

‘Ya,’ kata papa sambil memandang mama.

Papa mengangkat koper nenek ke kamar mama dan waktu nenek menata barang-barangnya, papa turun ke ruang keluarga dan seperti yang selalu dilakukannya, ia duduk di kursi lengannya sambil membaca koran dan aku bermain dengan kotak musik. Ini sungguh lucu karena ini adalah mainan untuk bayi.

‘Kamu tidak bisa bermain lebih jauh?’ tanya papa.

Dan nenek datang. Dia duduk di kursi dan dia tanya apakah aku senang dengan kotak musik itu dan apakah aku tahu bagaimana menjalakannya.

Aku menunjukkan ke nenek kalau aku tahu dan nenek tampak terkejut dan sunguh senang dan dia memintaku untuk memberinya ciuman.

Setelah itu nenek meminta papa untuk meminjamkannya koran, karena di kereta tadi ia tidak sempat membelinya. Papa bangkit dan memberikan koran kepada nenek yang telah duduk di kursi papa, karena lampunya paling terang untuk membaca.

‘Makan malam siap!’ teriak mama.

Kami pun makan malam dan ini sungguh hebat. Mama memasak ikan dengan mayonaise (aku suka sekali mayonaise) dan lalu ada bebek panggang dengan kacang polong dan lalu ada keju dan lalu ada roti creme dan lalu ada buah. Nenek membiarkanku mengambil semuanya sebanyak dua kali dan bahkan untuk roti, setelah yang kedua nenek memberikan jatahnya kepadaku.

‘Dia bisa sakit,’ kata papa.

‘Ah hanya kali ini, itu tidak akan membuatnya sakit’, kata nenek.

Lalu nenek bilang kalau ia sangat letih karena perjalanan tadi. Dan dia ingin tidur lebih cepat. Dia memberikan ciuman kepada semua orang dan lalu papa bilang kalau ia juga letih bahwa dia harus datang pagi ke kantor besok karena tadi ia pulang lebih awal untuk menjemput nenek di stasiun dan semua orang pergi tidur.

Sepanjang malam aku merasa sakit. Yang pertama datang adalah papa, yang naik sambil berlari. Nenek bangun juga dan sangat khawatir. Dia bilang ini tidak normal dan meminta untuk berkonsultasi dengan dokter dan aku pun tertidur.

Paginya mama datang membangunkanku dan papa masuk ka kamarku.

‘Kamu tidak bisa bilang ke mama untuk mandi lebih cepat?’ Pinta papa,’ Hampir sejam ia di kamar mandi. Aku heran apa yang ia lakukan di dalam sana.’

‘Dia sedang mandi,’ kata mama. ‘Dia boleh mandi kan?’

‘Tapi aku tergesa-gesa,’ teriak papa, ‘Dia tidak akan pergi kemana-mana, aku harus ke kantor. Aku bisa terlambat.’

‘Diam,’ kata mama,’ Dia bisa mendengarmu,’

‘Setelah semalaman aku tidur di kursi menyakitkan itu. Aku……’

‘Tidak di depan anak!’ kata mama yang menjadi merah dan marah. ‘Aku lihat semenjak dia datang, kamu tampak tidak suka dengannya. tentu saja ketika ini menyangkut keluargaku, selalu sama, tapi, saudaramu Eugène, contohnya ……’

‘Baik, baik, ok lupakan Eugene dan minta mama untuk mengambilkan alat cukur dan sabun. Aku akan mandi di dapur.’

Ketika papa datang untuk sarapan, nenek dan aku sudah siap di meja.

‘Cepat Nicolas!’ kata papa, ‘Kamu nanti terlambat !’.

‘Apa? Kamu akan menyuruhnya sekolah setelah apa yang dialaminya semalam. Lihat dia baik-baik. Dia pucat, cucu kesayanganku, kamu letih kan?’

‘Iya,’ jawabku.

‘Kalian lihat, kan? Menurutku, kalian perlu berkonsultasi ke dokter.’

‘Tidak, tidak,’ kata mama yang masuk dengan membawa kopi,’Nicolas akan pergi sekolah hari ini.’

Lalu aku mulai menangis. Aku bilang kalau aku sangat letih dan pucat. Mama menggerutu dan nenek bilang kalau dia tidak ingin ikut campur atas apa yang terjadi. Lalu nenek bilang kalau rasanya tidak berlebihan kalau aku tidak masuk sekolah sekali ini karena dia tidak akan punya banyak kesempatan melihat cucunya dan mama bilang iya hanya kali ini tapi mama tampak tidak senang dan lalu nenek menyuruhku untuk memberinya ciuman.

‘Hmm, baik, aku berangkat,’ kata papa,’ Aku berusaha untuk tidak pulang terlalu malam.’

‘Baik,’ kata nenek,’Dan jangan ubah kebiasaanmu demi aku. Bersikaplah seolah-olah aku tidak ada.’

No comments: