November 4, 2007

Maaf Cukup Sampai di Sini!

Cerpen Dewi Fatmawati

'Sophie, tunggu!' teriak Raya di belakangku.
Aku berjalan cepat menuju Gate 4 Bandara Sukarno Hatta. Aku tidak menghiraukan Raya yang berlari di belakangku. Kudekap erat Ravina di dada. Anakku itu memandangku. Bulatan hitam bola matanya tampak semakin bundar saat ia bangun dari tidur.
Ketika sampai di depan petugas pemeriksa tiket, kutunjukkan tiket penerbangan ke Jogja. Ia mengijinkan aku masuk. Aku melintasi ruangan kaca bandara, tempat check in penumpang. Inilah tempat terakhir dimana aku akan berpisah untuk sementara dengan suamiku.
'Sophie, maafkan aku! Jangan pergi!' teriaknya dari luar.
Telingaku telah tertutup rapat dan hatiku telah terkunci. Aku pun terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

***

Kami mengawali semua hal ini dengan begitu manis. Kami benar-benar mengidamkan rumah tangga ini. Aku menikahi Raya dengan kesadaranku. Aku mencintainya. Segala yang ada pada dirinya tampak sempurna di mataku. Dialah lelaki yang darinya aku ingin memiliki keturunan. Aku ingin anak-anakku nanti tumbuh bersama limpahan kasih sayang kami berdua.

Aku mengenal Raya di restoran tempat aku bekerja. Sebagai public relation aku mengenal banyak pelanggan yang datang ke restoranku. Saat itu Raya datang bersama kawan-kawan kantornya. Raya cukup tampan dan menonjol di antara teman-temannya. Aku merasa tertantang untuk mengenalnya lebih jauh. Dengan gayaku yang supel aku mendekati meja mereka dan berpura-pura bertanya mengenai menu kami hari itu. Ternyata Raya memberi respon cukup baik dan ia memandangku cukup lama. Jantungku berdegup kencang kala itu. Mulailah sejak itu, kami saling berhubungan.

Orang sering berkata bahwa kita harus mendengar suara hati. Karena ia tidak pernah berdusta dan selalu mengingatkan kita apabila kita salah melangkah. Selama perkenalanku dengan Raya aku hampir-hampir tidak pernah mendengarkan lagi suara hati. Aku begitu terpesona dengan keindahan yang ada di hadapanku. Padahal beberapa kali aku sempat menangkap sesuatu yang sepertinya tidak pas. Banyak kelemahan yang aku baru tahu kemudian setelah kami menjalani rumah tangga hari demi hari.

Raya merupakan anak lelaki satu-satunya di keluarganya. Empat orang kakaknya adalah perempuan dan ia adalah anak bungsu. Kelahirannya telah dinanti orang tuanya sejak lebih dari sepuluh tahun mereka menikah. Sejak kecil, ia menjadi anak emas dalam keluarga besarnya, di mana anak lelaki dipandang memiliki nilai lebih dibandingkan anak perempuan.

Pola asuh yang didapat sejak kecil terus dibawa Raya hingga ia menikah denganku. Ia merasa menjadi raja di rumah kami. Sejak menikah, aku tidak pernah melihat ia mengerjakan pekerjaan rumah. Ia tidak mampu mencuci piring bekas ia makan, menyapu rumah kecil kami bahkan mencuci mobil yang ia pakai sehari-hari. Kelemahannya itu tertutup dengan adanya pembantu di rumah kami. Namun tatkala hari raya, di mana pekerja di rumah mudik, maka akulah yang mengerjakan seluruhnya. Kala itu, mataku masih dibutakan oleh cinta sehingga aku memakluminya. Aku bersihkan rumah dengan keringat yang membanjiri tubuh dengan usia kandungan yang lebih dari enam bulan, sementara ia asyik dengan tv yang ia lihat tanpa bosan.

Selain sangat tidak trampil, Raya kurang menghargai diriku, atau perempuan pada umumnya. Sejak awal ia tampak tidak suka kalau aku bekerja. Baginya, istri yang baik adalah apabila diam di rumah mengurus anak dan suami. Masih, karena rasa cinta yang demikian besar, hingga aku menuruti apapun permintaannya. Aku tinggalkan restoran tempat aku telah bekerja selama lebih dari tiga tahun. Semenjak aku bersamanya, ia juga tidak ingin aku terlalu sering pergi bersama dengan teman-temanku. Ia bilang terlalu sering pergi merupakan pemborosan. Aku seharusnya menabung untuk persiapan pernikahan kami. Aku rasa pendapat Raya benar. Kutinggalkanlah teman-teman yang selama ini menjadi tempat aku curhat kala senang maupun sedih.

Perubahan besar mulai terasa ketika anak perempuan kami lahir, Ravina, anak yang kuimpikan sejak ia masih dalam kandungan. Aku telah membayangkan bahwa keluarga kecil kami akan menjadi lengkap dengan kehadirannya. Ravina akan tumbuh dengan kasih sayang kami. Namun kebahagiaanku disambut sebelah mata oleh Raya. Semenjak kelahirannya, Raya tidak pernah membantuku mengurus Ravina. Aku tahu ia tidak mampu memandikan bayi kami, membuatkan susu, dan menggantikan popok. Aku begitu repot bangun tengah malam menjaga Ravina sementara Raya tidur pulas. Aku pernah maklum dengan ketidaktrampilan Raya ketika awal perkawinan kami, tapi ketika aku begitu membutuhkan bantuannya kini, dan ia tidak mampu memberikan, aku merasa kecewa.

Kekecewaanku berubah menjadi kemarahan tatkala Raya kerap memarahiku untuk banyak hal. Segalanya tampak salah di matanya. Ia menjadi mudah emosi beberapa bulan belakangan ini. Kondisi perusahaan tempat ia bekerja memang sedang dirundung masalah, karena adanya aksi demonstrasi para karyawan. Sebagai manajer personalia, Raya harus mengatasi masalah ini. Beban kerja di kantor sering ia bawa pulang untuk ia kerjakan saat malam. Konsentrasinya sering terganggu saat Ravina bangun dan menangis. Ia tidak suka mendengar suara tangis dan minta aku segera menghentikan itu. Ketika Ravina rewel tengah malam karena demam pasca imunisasi, Raya lagi-lagi memarahiku. Ia bilang ia tidak dapat bekerja bila terus diganggu oleh suara tangis Ravina dan akhirnya ia pergi malam itu untuk menginap di rumah temannya.

Aku melihat Raya tidak menyayangi Ravina selayaknya seorang ayah. Ia memasang jarak dengan anak kami. Aku pernah menangkap kalau ia lebih menginginkan bila anak kami seharusnya lahir sebagai lelaki. Bagiku ini sebuah ketololan. Bagaimanapun dia adalah darah dagingnya, tapi sepertinya terlalu berat bagi Raya untuk dekat dengan Ravina.

Aku isi posisi kosong Raya dengan terus memberikan kasih sayang kepada Ravina. Aku kerap menangisi diri bila mengingat rumah tangga yang kini bagaikan kapal yang porak poranda dihantam badai. Nahkoda kapal telah mati. Aku sering bertanya mengapa aku bisa sampai seperti ini? Mengapa aku bisa jatuh ke pelukan lelaki yang tampak sempurna? Keindahan semu itu telah mengelabuiku. Ternyata ia tidak lebih dari lelaki yang syaraf-syaraf dalam otak kecilnya tumbuh tidak sempurna dan neuron-neuronnya didomonasi oleh rasa marah, picik, dan egois.

Sehari-hari, telingaku sudah tebal bila Raya tiba-tiba marah tanpa sebab yang jelas. Aku sudah tidak ambil pusing. Aku toh sudah tidak mempedulikan keberadaanya dia. Cintaku telah hilang, jauh sejak ia menghilangkan peran ayah untuk anakku. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai orang yang menolak darah dagingnya sendiri? Dan ini tidak dapat kutolerir.

Permasalahan kami telah diketahui oleh keluarga besar Raya. Raya cukup sering menceritakan aku kepada orang tuanya. Dan semua itu membentuk opini kalau aku adalah istri yang suka melawan suami. Beberapa kali orang tua Raya menyidangku habis-habisan. Dan keputusan selalu berakhir pada kesimpulan kalau akulah yang salah. Aku dinilai sebagai istri yang tidak mampu mengurus rumah tangga. Aku tidak heran karena sejak awal aku tidak pernah dipandang dalam keluarga itu. Ketika aku mengatakan tekadku sudah bulat untuk bercerai, mereka tampak panik. Cerai adalah tabu dalam keluarga Raya. Lebih baik selingkuh daripada harus berpisah. Keinginanku itu telah ditolak mentah-mentah oleh mereka.

Maka kususunlah sebuah rencana. Aku berniat membawa Ravina ke rumah orang tuaku di Jogja. Aku ingin menghindari Raya sementara waktu dan memikirkan masa depanku dan Ravina dengan lebih tenang.

Ketika Raya bangun pagi melihatku tengah mengemas koper, ia sangat terkejut dan bertanya kemana aku akan pergi. Aku tidak menghiraukan. Dari jendela ia melihat sebuah taksi yang telah menunggu di depan pintu pagar. Aku menggendong Ravina menuju ke dalam taksi, dan Raya pun langsung berlari ikut masuk ke dalam taksi.
'Jalan, Pak!' perintahku ketika sudah duduk di dalam taksi.
'Kamu ingin kemana?' tanya Raya panik di sebelahku. Aku diam.
'Pak, ini mau kemana?' tanya Raya cepat kepada supir taksi.
'Ke bandara, Pak' jawab supir taksi sambil memandang kaca spion di atas kepalanya. Ia tampak bingung melihat kami.
'Kamu ingin ke bandara? Kamu ingin pergi kemana?' Cecar Raya dengan mata terbelalak. Aku diam. Aku pandangi Ravina yang tertidur di pangkuanku. Merasa tidak mendapat respon dariku, ia menyuruh sopir taksi untuk berhenti, tapi aku paksa dia untuk terus berjalan.
'Kamu tidak boleh melakukan ini! Pergi diam-diam seperti ini!' kata Raya di sampingku. Wajahnya merah. Aku mengalihkan pandanganku ke kiri, ke luar jendela.
'Sophie, tolong bicara, jangan diam seperti ini!' katanya memohon.
Mulutku rapat. Tidak ada gunanya aku bicara denganmu. Toh, semua yang kukatakan tidak pernah kau hiraukan. Batinku
'Aku minta maaf. Aku akan berubah, percayalah!'
Bah, kau ingin aku mempercayai kata-katamu? Terpikat mulut manismu? Setelah aku kau bodohi selama ini ? Masih batinku.
'Beri aku kesempatan sekali ini, Sophie!'
Aku sudah memberimu waktu lebih dari dua tahun. Kurang cukupkah itu? Hatiku telah kubuka lebar-lebar untuk selalu memaafkanmu, tidakkah itu kau hitung? Mungkin memang tidak. Karena kau toh tidak memiliki hati. Tak ada gunanya berbicara tentang perasaan denganmu.
Aku telah demikian tidak peduli dengan dirinya. Matanya yang bulat dengan bulu mata yang panjang, tampak sayu. Wajahnya yang tampan terus memandangiku dan bibirnya yang mungil berwarna kemerahan tak henti mengeluarkan kata-kata untuk meluluhkan hatiku.Tapi hatiku telah membatu. (041107)

1 comment:

la vie said...

Duh, mademoiselle...
ga nyangka loe bisa nulis juga yaa.., dan hasilnya cukup memuaskan tuh...
Bagus tulisannya..., gmn caranya ajarin gw doooong...

Dan mestinya sepasang suami istri itu ga harus pisah...sayang banget sad-ending.. Mestinya bisa di komunikasikan secara baik-baik sblm memutuskan untuk pergi...hiks...

Ok, gitu aja dulu.. Bon courage!