Setelah makan malam papa menghitung pengeluaran sebulan bersama mama.
‘Aku heran, kemana perginya uang yang aku berikan kepadamu,’ tanya papa.
‘Oh senangnya aku kalau kamu bertanya seperti itu,’ jawab mama yang wajahnya tidak tampak senang.
Lalu mama menjelaskan kepada papa kalau papa tidak menyadari harga dari barang-barang dan kalau papa pergi ke pasar, baru akan mengerti; dan bahwa mereka tidak boleh bertengkar di depan anak-anak.
Papa bilang kalau semua ini omong kosong dan jika dia yang berbelanja, maka kami akan lebih hemat dan makan makanan yang lebih baik dan anak-anak harus tidur.
‘Ya, baik, kalau begitu, kamu saja yang berbelanja. Kamu yang pintar,’ kata mama kepada papa.
‘Ok,’ jawab papa,’Besok adalah minggu dan aku akan pergi ke pasar. Kamu akan lihat kalau aku tidak akan membiarkan hal ini berlangsung terus.’
‘Asyik, ‘kataku, ‘Boleh aku ikut, Pa? Dan mereka menyuruhku tidur.
Pagi hari, aku bertanya kepada papa apakah aku boleh menemaninya dan papa bilang iya, karena hari ini para pria yang akan berbelanja.
Aku benar-benar senang karena aku senang pergi besama papa. Dan pasar itu asyik, ada banyak orang dan semua orang berteriak. Itu seperti taman rekreasi yang besar. Papa bilang kepadaku untuk membawa kantung belanja dan mama bilang kepada kami 'sampai nanti', sambil tertawa.
‘Kamu dapat tertawa sekarang, tapi nanti kamu tertawanya kurang, ketika kami pulang dengan barang-barang bagus yang kita akan bayar dengan harga yang pantas. Kita lelaki, tidak ingin membiarkan ini berlangsung terus, benar Nicolas?
‘Yeah, ‘kataku.
Mama terus tertawa dan dia bilang kalau dia akan memasak air untuk lobster yang akan kami bawa untuknya. Kami pun menuju mobil di garasi kami.
Di dalam mobil aku bertanya kepada papa apakah benar kita akan membawa lobster
‘Kenapa tidak?’ tanya papa.
Di pasar, kami menemukan masalah untuk menemukan tempat parkir mobil.
‘Ok,’ kata papa,’ kita akan membuktikan kepada mamamu kalau berbelanja itu mudah dan kita akan mengajarkan untuk hemat, benar
Dan lalu papa mendekati penjual yang menjual banyak sayuran. Penjual itu melihat papa dan dia bilang kalau tomat itu tidak mahal.
‘Beri aku sekilo,’ kata papa.
Penjual itu memasukkan 5 tomat ke dalam kantong belanja dan dia bertanya,’Tomat itu dimasukkan ke kantong itu?’
Papa melihat kantongnya dan lalu dia bilang,’Bagaimana? Sekilo hanya 5 tomat ?’
‘Menurut anda bagaimana? tanya penjual itu. Dengan harga seperti itu anda ingin satu kebun tomat?
‘Ulangi apa yang anda katakan barusan, kalau anda memang lelaki!' kata penjual.
Papa bilang, ‘Ok, ok’. Dia memberikan kantong belanja kepadaku dan kami pergi ketika pedagang itu membicarakan mengenai papa dengan pedagang lain.
Dan lalu aku melihat seorang panjual yang di mejanya banyak ikan dan udang.
‘Lihat papa ada lobster !’, teriakku.
‘Ya, sempurna!’ kata papa, ‘Ayo kita lihat !’
Papa mendekati penjual itu dan bertanya apakah udang-udang itu segar. Pedagang itu menjelaskan kalau udang-udang itu spesial. Mangenai kesegarannya, dia bilang,' Iya, karena masih hidup,’ katanya tertawa.
‘Ya, baik’ kata papa,’Berapa harganya untuk yang besar itu, yang kakinya bergerak?’
Penjual menyebutkan harganya dan papa membelalakan matanya lebar-lebar, ‘Dan yang lain, itu yang lebih kecil?’ tanya papa.
Penjual menyebutkan harganya lagi dan papa bilang kalau ia tidak bisa mempercayai semua ini dan ini benar-benar memalukan
‘Dengar,' kata penjual,' Anda mau membeli lobster atau udang kecil karena harganya masing-masing berbeda. Istri anda pasti sudah mengingatkan sebelumnya.’
‘Ayo Nicolas,’ kata papa, ‘Kita mencari yang lain.’
Aku bilang sama papa tidak ada gunaya mencari yang lain karena lobster yang lain kelihatanya sangat menyedihkan.
‘Jangan membantah!’ kata papa, ‘Kita tidak akan membeli lobster.’
‘Tapi papa,' kataku, 'Mama sudah memasak air untuk lobster. Kita harus membelinya.’
Lalu aku pun menangis,'Ini tidak adil,' kataku.
‘Ternyata anda bukan hanya pelit dan tega membuat keluarga anda kelaparan, tapi anda juga mengorbankan anak kecil ini.’
‘Jangan mengurusi orang lain!’ teriak papa, ‘Yang penting kita tidak mengatakan orang lain pelit, sementara kita pencuri.’
‘Pencuri? Aku?’ teriak pedagang, ‘Kamu ingin saya pukul?’ Dan dia mengambil seekor ikan pari siap melemparkan ke papa.
‘Ah itu benar,’ kata seorang ibu, ‘Ikan yang kamu jual kemarin tidak segar, kucing di rumah pun tidak mau memakannya.'
Lalu beberapa orang berdatangan dan kami pun pergi ketika mereka mulai bertengkar dan si penjual memberikan isyarat dengan ikan parinya.
‘Kita pulang,’ kata papa yang tampak tegang dan letih.
‘Tapi papa, kita baru membeli 5 tomat......’
Tapi papa tidak membiarkanku menyelesaikan ucapanku. Ia menarik tanganku dan aku kaget sehinga kantung belanjaku terlepas dari tanganku dan jatuh.
Hasilnya adalah ketika ada seorang ibu gemuk yang ada di belakangku menginjak tomat itu dan berbunyi, kress, dia mengingatkan kami untuk hati-hati. Tomat-tomat itu kini tampak menyedihkan dan,
Tapi papa tidak ingin lagi mendengarku dan kami sampai di mobil.
‘Benar-benar hari yang indah!’
Dan lalu kami masuk mobil dan papa menyalakan mobil
‘Hei, hati-hati dengan kantung belanjamu!’ teriak papa, tomat-tomat itu mengotori celanaku. Dan mobil kami pun menabrak truk di depan kami.
Ketika kami keluar dari garasi tampat papa parkir mobil, papa bilang ini bukan masalah besar dan lusa akan diperbaiki, tapi papa tampak marah, mungkin itu karena kata-kata yang diucapkan tadi kepada supir truk.
Di rumah, ketika mama melihat kantung belanja kami, dia siap untuk mengucapkan sesuatu, tapi papa segera berteriak untuk tidak berkomentar sedikit pun.
Karena tidak ada makan hari ini, papa mengajak kami ke restoran dengan menumpang taxi. Papa makan sedikit, tapi aku dan mama mengambil lobster mayonnaise, seperti makanan yang kami makan saat komuni di rumah sepupuku. Mama bilang kalau papa benar, bahwa hemat itu menyenangkan.
Aku berharap minggu depan papa akan mengajakku berbelanja.
No comments:
Post a Comment