April 20, 2008

Dunia Kecil Laksmi

Cerpen Dewi Fatma

Hidup ini susah-susah gampang. Bila suatu hal terlalu dipikirkan serius, maka jadinya akan susah. Lebih baik dilos-kan aja.Tidak usah terlalu dipikirkan terlalu dalam. Nanti juga yang susah jadi gampang dan yang gampang, ya syukurlah kalau begitu. Kini, itulah prinsip hidup Laksmi perempuan berusia 25 tahun dengan tiga orang anak. Ia merupakan saksi hidup bagaimana ia akhirnya lepas dari ketidakberdayaan.

Ia bekerja sebagai penjahit di sebuah industri garmen. Hari-harinya dijalani di antara tumpukan kain, benang dan pernak-pernik lainnya. Jari-jarinya lincah menjahit mote-mote indah di atas kain sutra mengikuti pola yang tertera samar di bawahnya. Kelihatannya hidupnya monoton, tapi sebenarnya tidak seperti itu.

Pukul sepuluh pagi, kesibukan Laksmi terhenti karena getar hp di saku celananya. Sebuah pesan pendek tertera di layar, 'Mi, jangan lupa ya nanti sepulang kerja.kamu bisa kan?' Seusai membaca kalimat itu, bibir Laksmi tersungging senyum tipis. Hatinya berbunga-bunga.Tanpa ragu, ia pun segera membalas sms itu sebagai tanda persetujuannya. Setelah memasukkan kembali hp di kantung celananya, Laksmi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada yang memperhatikannya. Teman-temannya semua sibuk bekerja. Wajah menunduk dengan tangan yang trampil bergerak otomatis, bagaikan robot. Laksmi menghela nafas. Siang ini mungkin akan berlangsung biasa saja, tapi nanti sore akan lain ceritanya, pikirnya. Kembali ia tersenyum tipis, namun segera ditutupi dengan menunduk, melanjutkan sulamannya.

Banyak hal kini yang membuat hari-harinya kini lebih berwarna. Sebelumnya hidup ini bagi Laksmi terasa berat dengan beban yang besar di pundaknya. Lebih dari tujuh tahun ia menikah dengan sang suami. Mereka menikah karena adat dan agama mengharuskan itu. Agar ia dan suami dapat sah menjadi suami istri, melahirkan anak. Memenuhi tuntutan orang tua dan masyarakat.

Laksmi begitu muda waktu itu, tidak tahu apa arti cinta, menikah dan semua permasalahan yang ada di dalamnya. Menikah berarti mengabdi, itu yang Laksmi pahami.Tradisi mengharuskannya tinggal bersama orang tua suami. Berinteraksi setiap hari dengan orang-orang yang menuntutnya melakukan banyak hal. Ia harus tahu diri, dapat mengurus anak, suami, mertua dan saudara-saudara iparnya. Bertahun-tahun ia di rumah, sibuk dengan pekerjaan rumah yang seakan tidak ada habisnya.

Rumah tangga ia rasakan lebih sebagai penjara. Hubungannya dengan keluarga suami tidak baik. Keberadaanya tidak dianggap oleh mertuanya. Padahal setiap hari ia membereskan rumah, memasak, mengurus cucu-cucu kesayangan mereka. Tapi sepertinya semua tindakannya selalu kurang di mata mereka. Serba salah. Belum lagi omelan suami yang datangnya selalu tiba-tiba, tidak ada angin, tidak ada guntur, tahu-tahu disemprotlah ia oleh suaminya. Laksmi sering menangis di dalam batin. Sendirian, tidak ada teman tempat ia berbagi duka.

Perubahan datang ketika seorang tetangga mengajaknya bekerja di perusahaan garmen. Saat itu industri sandang memang tengah boom. Banyak perusahaan besar maupun rumahan didirikan. Upah yang ditawarkan cukup menggiurkan. Awalnya, suami Laksmi tidak mengijinkannya bekerja. Egonya terlalu besar untuk membiarkan istrinya bekerja. Namun jumlah upah yang besar, menggoda hati suami. Ia dijinkan bekerja dengan syarat tugas sebagai istri tetap Laksmi kerjakan. Jadilah seharian Laksmi bekerja di konveksi, pulangnya ia harus membereskan rumah, memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Tidak ada keluh kesah dengan kerja tambahannya itu. Bagi Laksmi keadaan ini jauh lebih baik daripada ia hanya di rumah. Ia merasa beruntung memiliki ketrampilan menjahit yang diperolehnya di bangku sekolah kejuruan. Dengan bekal itu, maka terjadi perubahan besar dalam hidupnya. Bekerja memberinya nafas baru. Bergaul dengan teman sebayanya. Mengembalikan ingatannya ketika masa-masa sekolah dulu. Ia dapat bercanda, berbagi rasa dan bersenang-senang. Dengan gajinya, ia dapat menyisihkan membeli baju,menghias wajah, berjalan-jalan dengan teman.

Sampai kemudian, datanglah penghibur hati. Agus. Dia adalah supir di tempat Laksmi bekerja. Pria beranak satu. Awalnya hanya guyonan diantara mereka. Suatu hal yang lumrah diantara para pekerja. Lalu Agus menunjukkan sikap lebih terhadap Laksmi. Sering mengirimi sms dan sering ada di dekat Laksmi.Teman-teman pun mulai mencium keakaraban di antara mereka dan kerap menggoda. Keakraban seperti itu bukanlah hal aneh. Kedekatan yang melahirkan pria-pria dan wanita-wanita lain.Tidak sedikit teman-teman Laksmi yang memiliki teman-teman dekat. Berselingkuh istilahnya, bukanlah hal yang luar biasa. Hidup ini terlalu keras untuk mereka. Perlu sedikit menghibur diri. Caranya dengan mencari orang-orang yang mau berbagi rasa.

Semula tidak pernah terbersit di benak laksmi untuk menjalin hubungan dengan pria lain. Ia begitu takut kalau suaminya tahu. Belum lagi bila mertuanya sampai dengar. Laksmi mengalami depresi pada awalnya. Hatinya ingin menyudahi kedekatan ini dan kembali menjadi istri seperti dulu, mengabdi pada suami dan keluarga besarnya. Tapi kalau dipikir-pikir orang-orang yang selama ini ia layani, tidak pernah menghargai dirinya. Sementara dengan keadaan sekarang ia sangat bahagia. Mengetahui ada orang yang memperhatikannya. Yang mau mendengar keluhannya dan mempedulikannya.

Sedikit demi sedikit, problem-problem dalam rumah tangganya pun tidak lagi dirasa berat. Dia tidak pernah mengambil hati bila keluarga besarnya marah apabila ada yang salah di mata mereka. Begitu pula bila suaminya marah. Dia tidak peduli dengan semuanya. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Semua ia anggap enteng.
Tidak seperti dulu. Kini ia punya dunia lain. Dunia kerja. Perasaannya selalu ringan tatkala pagi datang dan berangkat bekerja. Bertemu teman-teman dan tentu saja pujaan hati.

No comments: