April 20, 2008

Berbagi Cinta

Cerpen Dewi Fatma

“Mas, nanti malam temani aku ke tempat Tari ya. Hari ini dia ulang tahun dan ada pesta kecil di rumahnya.” Pinta Rani sembari menyuguhkan minuman dan kue kering untuk Bayu yang tengah duduk santai menonton televisi. Ia mendekati kekasihnya itu dan merebahkan kepalanya di lingkar lengan Bayu.

“Jam berapa?” Tanya Bayu. Jemarinya membelai rambut panjang Rani yang lembut dan tercium wangi namun matanya tetap diarahkan ke tayangan tv.
“Jam tujuh.” Jawabnya.
“Ok.” Kata Bayu. Sekarang baru jam tiga sore. Aku bisa istirahat dulu sambil menonton tv. Pikirnya
“Tapi, aku belum beli kado, mas. Antar aku beli kado dulu ya sekarang.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Bayu sebenarnya agak keberatan karena semula rencananya ingin santai sejenak di rumah Rani. Badannya butuh istirahat setelah semalam menghadiri peluncuran produk telepon genggam baru yang diadakan oleh kliennya. Sebenarnya acara selesai pukul 11 malam, tapi ia dan teman-temannya melanjutkan dengan pesta kecil di sebuah suite room ditemani dengan beberapa sexy dancer. Menjelang Subuh, barulah Bayu pulang itupun diantar temannya yang tidak terlalu mabuk dibanding dirinya. Sekarang matanya terasa berat dan ingin sekali memejamkan mata sejenak.Tapi menolak keinginan Rani sama dengan membangunkan macan tidur. Bisa-bisa urusannya jadi panjang.
“Ok, kita berangkat sekarang” Ajak Bayu akhirnya. Dipaksanya tubuh letihnya berdiri dan mengambil kunci mobilnya.
Sabtu menjelang sore, mall di Selatan Jakarta ini sudah mulai menujukkan keramainnya. Kursi-kursi yang berjejer rapi di dalam café-café tampak penuh dengan pasangan yang ingin berduaan atau mereka yang ingin berkumpul bersama teman-teman dekat.
Rani menggandeng mesra lengan Bayu. Dituntunnya kekasihnya itu menuju lantai 2 mall yang diisi berbagai asesoris dan pakaian pria serta wanita. Pandangan Rani diedarkan ke penjuru ruang dan berhenti ketika tertuju pada etalase asesoris. Dengan antusias Rani menuju sebuah counter dan memilah-milih aneka ragam kalung dengan serius. Bayu yang ditinggalkannya, memilih duduk diantara deretan tas. Getaran HP di sakunya dirasakan Bayu. Sebuah panggilan dari Daisy.
“Halo Dais.” Sapanya mesra.
“Hai Bayu.” Sebuah suara terdengar renyah.
“Ada apa Dais?” Tanyanya pelan, seolah takut didengar orang lain.
“Tidak apa-apa, cuma mau telpon kamu aja. Kamu sedang apa, say?”
“Hmm, aku lagi kumpul sama teman-teman nih mau latihan band” Jawab Bayu. Dia sedikit terkejut menerima telepon Daisy di waktu-waktu dimana ia sedang bersama Rani, seperti Sabtu ini. Untuk mengantisipasi kemungkinan masalah yang timbul, ia pernah memberitahukan Daisy bahwa Sabtu merupakan hari dimana ia berkumpul bersama teman-temannya untuk latihan band.
“Lagi latihan band dimana?Aku kangen berat nih sama kamu.” Ucap Daisy manja.
“Di Cipete. Hmm, aku juga kengen sama kamu. Kamu lagi apa, yang?” Ekor mata Bayu mengamati Rani yang tetap serius membanding-bandingkan beragam asesoris di ujung counter.
“Aku lagi di salon nih bersama Maya. Nanti malam dia diundang acara Anugerah SCTV Award. Dia dinominasikan sebagai artis favorit.”
“Waduh sibuk banget manajer artis kita ini. Tidak capek?”
“Sedikit, tapi tidak apa-apa. Besok kamu mau datang jam berapa?”
“Maunya jam berapa?” Jawabnya menggoda.
“Semakin cepat semakin baik.”
“Ok, aku datang siang ya.” Janji Bayu. Matanya melihat Rani berjalan ke arahnya. “Udah dulu ya, yang. Teman-teman sudah kumpul semua nih, siap untuk mulai latihan.”
“Ok, say. Sampai besok ya muuahh”
“Daaa…” Bunyi klik terdengar dan putuslah hubungan ini tepat ketika Rani ada di depan Bayu.
“Telpon dari siapa, mas?”
“Dari Andre.” Jawabnya pendek.
“Ada apa dia telpon hari Sabtu? Memangnya dia tidak ada kerjaan?” tanyanya merasa terganggu.
“Duh, segitunya. Andre cuma mengingatkan kalau besok jadwal latihan band kami.”
“Latihan lagi?” tanggap Rani terdengar jelas nada keberatan di sana.
“Iya, kita kan cuma sempat hari Minggu. Hari sabtu kita jalan dengan pacar masing-masing.”
“ Latihannya jam berapa besok?”
“Siang.”
“Seperti kemarin-kemarin ya, sampai malam?”
“Ya, habis gimana lagi. Sudah lama tidak latihan. Susah banget buat anak-anak kompak.”
“Hmm.” Wajah Rani langsung berubah. Kekesalan terlihat jelas.
“Sudah dong, sayang. Jangan cemberut gitu. Aku janji besok aku akan ajak teman-teman supaya latihannya sampai sore aja. Gimana?
“Betul ya, mas? Janji lho.” Pintanya. Bayu mengangguk mantap dan Rani pun tersenyum lebar. Wajahnya tidak ditekuk lagi. Sebaliknya ia mulai bersemangat dan menujukkan kalung pilihannya.
“Yang ini gimana Mas, bagus kan?”
Bayu mengamati sekilas. “Bagus.” Jawabnya singkat.
“Ya, sudah. Aku kasih Tari kalung saja. Kita ke kasir yuk.” Katanya.
Bayu pun beranjak ketika kembali lengannya ditarik oleh Rani.
Bayu merasa lega. Lagi, masalah bisa ia atasi. Selama ini ia memang berusaha sebisa mungkin mengatur jadwal pertemuannya dengan Rani dan Daisy. Banyak alasan yang bisa ia gunakan. Latihan band, lembur, ke luar kota, sakit dan banyak lagi. Sejauh ini everything is under control. Kedua perempuan itu tidak pernah mencium kebohongan itu.
Enaknya berpacaran dengan Rani adalah bahwa ia sangat mudah diambil hatinya. Pemikirannya yang agak kekanakan dan cenderung lugu sangat menguntungkan Bayu dan ia nyaris tidak melakukan usaha extra keras dalam menjalani hubungan ini. Rani tidak pernah menuntut hal yang aneh-aneh. Ia hanya ingin setiap kali ada pesta yang diadakan oleh teman-temannya, Bayu dapat mengantarnya. Saat ada pemutaran film perdana di bisokop, mereka dapat menonton. Berjalan-jalan di mall, sekadar cuci mata rutin mereka lakukan. Berbagai barang-barang fashion keluaran terbaru diberikan Bayu kepada Rani untuk menunjukkan tanda kasih sayangnya. Bisa dibilang Bayu tahu bagaimana memikat hati kekasihnya yang baru berusia 22 tahun ini. Bila tidak ada perubahan rencana, setelah Rani diwisuda tahun ini, mereka akan segera menikah.
Pertemuan Bayu dengan Rani diawali dengan keinginan Ayah Bayu yang berharap anaknya dapat menikah dengan putri sahabatnya, Pak Hadi, orang yang pernah menyelamatkan dirinya ketika perang kemerdekaan dahulu. Bagi Bayu, keinginan ayah sama dengan perintah yang harus dijalankan. Ayah merupakan figur kepala keluarga yang kata-katanya tidak boleh dilanggar. Bukan hanya Bayu, seisi keluarga mematuhi keinginan ayah.
Kini hampir dua tahun Bayu bersama Rani. Hubungan mereka berjalan lancar-lancar saja. Namun satu hal yang tidak pernah bisa Bayu lakukan adalah setia pada Rani. Bayu selalu ingin berhubungan dengan perempuan lain. Ia merasa hal tersebut wajar-wajar saja. Toh ayahnya juga berpoligami. Selain ibunya, masih ada satu perempuan lain yang menjadi istri ayahnya. Latar belakang keluarga menambah keyakinan Bayu bahwa lelaki memang diposisikan lebih tinggi dari pada perempuan. Motonya selalu: “Dunia luas adalah milik lelaki. Maka berkuasalah wahai, lelaki!”
Banyak perempuan lain yang singgah di hatinya. Kliennya, temannya teman, tidak jarang pertemuan tak terduga di berbagai tempat berlanjut ke dalam hubungan intim. Namun, hubungan tersebut tidak ada yang bertahan lama. Bahkan sering semua itu hanya berlangsung satu malam.
Kali ini ia tengah dekat dengan Daisy. Perempuan ini benar-benar memikat hati Bayu. Berusia lebih dari 30 tahun, matang, berpikiran terbuka dan wawasannya yang luas membuat Bayu kagum kepadanya. Bekerja sebagai manager artis menyebabkan ia mengenal banyak artis dan publik figur. Dalam berbagai kesempatan, Daisy sering mengenalkannya Bayu dengan para selebritis yang selama ini hanya Bayu lihat di tv. Pergaulan Bayu pun bertambah luas dan itu menguntungkan karirnya sebagai pengacara.
Teman-teman Bayu sudah tahu tentang cinta segitiga ini dan tidak ada yang mempermasalahkan keadaan itu. Toh mereka juga melakukan hal yang sama selagi ada kesempatan. Namun ada teman kantornya, Eri yang sering mengingatkan Bayu agar hati-hati dengan kebiasannya itu. Mungkin karena sudah menikah, ibu muda ini tidak bisa menolerir tingkah laku Bayu yang kerap selingkuh.
“Yu, kamu masih jalan sama Rani sekaligus dengan siapa itu?”
“Daisy? Masih, kenapa memangnya Ri?”
“Gila kamu Yu. Kalau Rani sampai tahu, bagaimana? Bisa ngamuk si bocah itu.”
“Rani tidak mungkin tahu, Ri. Aku sudah atur sebaik mungkin. I am playing safe.”
“Yu, kamu tuh laki-laki yang tidak bersyukur. Sudah punya tunangan yang cantik masih saja kurang. ”
“Aduh, kamu Ri. Jaman gini. Kalau kita bisa dapet dua, kenapa juga cuma ambil satu?” Jawabnya bangga.
“Kamu kacau, Yu. Kena karma lho nanti.”
“Bukan aku yang mulai Ri. Daisy yang aktif sejak awal. Setelah kenal, dia terus mengirimkan sms dan mengajak bertemu. Katanya dia kesepian, tidak punya pacar. Ya sudah aku ikuti saja kemauannya.”
“Daisy tahu kamu sudah punya pacar?”
“Tidak”
“Dia tidak tanya?”
“Tidak.”
“Sepertinya tidak penting deh buat dia. Toh, kami cuma have fun aja. Tidak ada yang serius.”
“Kamu yakin, dia tidak menaruh harapan sama kamu”
“Sepertinya tidak. Dia tidak pernah nuntut aku macam-macam.”
“Ya, hati-hati deh Yu. Jangan sampai rencanamu gagal untuk menikah tahun depan.”
“Tenang, bos,” Janji Bayu mantap.
***
Minggu ini Bayu memenuhi janjinya mengunjungi Daisy. Seperti biasanya, pertemuan itu penuh dengan luapan kerinduan di antara mereka. Di atas sofa mereka berciuman dengan antusias. Setelah beberapa lama saling memagut, mereka pun berhenti. Tak ingin membuang waktu, berdua mereka mulai menanggalkan pakaian masing-masing dan melanjutkan di tempat tidur.
“Tunggu, aku belum pakai kondom, say.” Kata Bayu mengingatkan pasangannya.
Daisy seakan tidak peduli. Dia terus menciumi leher Bayu. “Tidak perlu.” Katanya. Dia terfokus dengan hidangan di depannya yang menggugah hasrat. Bayu tampak tidak mengerti. Seingatnya mereka selalu hati-hati ketika berhubungan seks.
Daisy merasakan Bayu seperti tidak nyaman. Ia pun berhenti dan menatap mata pasangannya penuh arti. Tersungging senyum manis di bibir Daisy, “Sayang, dengar. Kamu tidak usah pakai kondom lagi. Aku hamil 8 minggu.”
“Hamil?” Ulang Bayu seperti tidak yakin dengan apa yang didengarnya.
“Iya. Dan kamu tahu, kamu akan menjadi bapak kurang lebih 7 bulan lagi.”
Bagaikan disambar petir, Bayu tampak shock.”Kamu serius?”. Tanyanya tak percaya.
“Iya, ingat waktu kita menginap di Bali? Kita begitu mabuk sehingga tak sadar bahwa akibat hubungan kita itu kini aku hamil. Tadi aku ke dokter untuk memeriksa diri mengingat aku tidak menstruasi lebih dari dua bulan. Dan ternyata aku positif hamil. Aku bahagia sekali. Kamu tidak senang dengan kabar ini, Yu? Tanya Daisy melihat Bayu yang hanya diam mematung mendengar penjelasannya barusannya.
“Sorry Dais. Aku sangat kaget. Aku tidak menyangka akan menjadi ayah dalam waktu dekat.”
“Masih lama sayang, kita masih punya banyak waktu untuk menyiapkan ini semua.” Hiburnya.
Bayu diam. Sebenarnya bukan soal ketidaksiapannya menjadi bapak calon bayi. Dia hanya tidak ingin bayi itu ada di dalam kandungan perempuan selingkuhannya. Dia ingat Rani dan mem bayangkan bagaimana reaksinya bila mendengar berita ini. Mengapa Daisy sampai membiarkan dirinya hamil. Tapi bukankan dia sudah bilang bahwa kejadian waktu itu diluar kesadaran mereka. Bayu pun menyalahkan dirinya karena tidak hati-hati.
“Dais, kamu ingin mempertahankan bayi ini?”
“Tentu saja, Yu.”
“Tapi bukankah dulu kamu bilang kalau kamu tidak ingin memiliki anak. Kamu tidak ingin menikah dalam waktu dekat?” Gugat Bayu panik. Belum pernah ia mengalami hal ini, mendapat gugatan pertangungjawaban dari teman perempuannya.
“Memang, Yu.” Jawab Daisy mengakui perubahan sikapnya kini. “Aku memang pernah bilang seperti itu. Dulu, aku sudah bahagia dengan keadaanku. Bebas. tidak ada yang menahan langkahku, sehinggga aku dapat pergi kemanapun aku suka. Jujur, ketika aku mendapati diriku hamil, aku pun kaget. Aku merasa tidak siap. Tapi aku juga tidak sampai hati menggugurkannya. Hingga kemudian aku berpikir, betapa bayi ini akan sangat manis ketika dia terlahir di dunia. Kamu tahu, bahwa aku sangat suka dengan anak kecil.” Jelas Daisy.
Bayu menatap Rani dengan penuh kebingungan.
“Maafkan aku Bayu, membuatmu sedih. Yu, alasanku dulu tidak ingin menikah disebabkan aku tidak percaya bahwa aku akan menemukan lelaki yang sangat kucinta. Tapi kini, setelah aku mengenalmu, aku rasa aku bisa mempercayai lelaki. Aku yakin aku dapat mengatasi seluruh ketakutanku.”
Bayu merasa malu mendengar pernyataan Daisy. Setelah apa yang dia lakukan selama ini terhadap perempuan itu, sebaliknya, sanjungan yang ia dapatkan. Tak sampai hati dirinya berbohong terus. Daisy harus tahu bahwa tidak mungkin baginya untuk mempertanggungjawabkan ini semua.
“Dais, ada yang ingin kuceritakan. Sebelumnya aku minta maaf tidak memberitahumu sejak awal. Aku sudah bertunangan.” Berbalik, kini Daisy yang seperti disambar petir. Kembali kepercayaanya dikhianati oleh lelaki. Mengapa selalu seperti ini nasibnya? Sesalnya. Namun kematangan pengalaman hidup membuat Daisy mampu mengatasi kekecewaan ini. Reaksinya tetap tenang, setenang dirinya ketika menghadapi pertanyaan yang mencecar bosnya oleh wartawan infoteinmen.
“Dais, aku mohon kamu memahami posisiku.” Pinta Bayu bak pengemis.
Daisy masih diam. Jeda waktu dirasakan Bayu begitu lama Bayu. Ia memandang Daisy penuh penyesalan. Ia mengharapkan Daisy marah dan mencacinya sebagai lelaki brengsek. Namun bukan itu kalimat yang keluar dari perempuan ini.
“Kamu tidak perlu memutuskan apapun saat ini, Bayu. Sebaiknya kamu pikirkan dulu.” Katanya akhirnya. Penuh ketenangan.
Jawaban Daisy betul-betul diluar dugaan Bayu. Tidak ada paksaan. Tidak ada tuntutan. Oh, Daisy, kebebasan yang kau berikan membuatku malu. Bayu pun mengangguk seolah berjanji akan memikirkanya masak-masak. Diciumnya kening Daisy. “Maafkan reaksiku barusan. Aku tidak menyangka akan mendapat kabar bahagia ini.” Katanya memperbaiki sikapnya yang menjengkelkan tadi.
***
Berada dalam keadaan yang terjepit seperti ini, membuat Bayu berpikir extra keras. Memperhitungkan segala konsekuensi dari pilihan-pihan yang ada. Berupaya mendapat keuntungan dengan pengorbanan seminim mungkin. Membandingkan Rani dan Daisy bagaikan langit dan bumi. Keduanya jelas berbeda. Rani yang dicintainya, dengan keluguannya memberi banyak kebebasan kepada Bayu untuk menjalin hubungan deangan banyak perempuan lain. Entah sampai kapan Rani tidak sadar dengan dengan kebiasaan ini. Besarkah rasa cintanya kepada Rani? Mungkin. Namun keinginan untuk memenuhi kemauan orang tuanya jauh lebih besar daripada rasa cintanya yang sesungguhnya. Sedangkan Daisy, Bayu juga mencintainya. Dan rasa cintanya kepada Daisy lebih besar dibanding Rani. Besarnya cinta itu disebabkan kelebihan yang dimiliki perempuan ini. Pergaulan Daisy dikalangan jetset sangat mendongkrak karir Bayu. Semenjak ia berhubungan dengan Dasiy, kliennya bertambah secara signifikan. Semua itu berimbas kepada pendapatannya yang melonjak drastis. Bosnya senang. Kantor kebanjiran klien. Bila kinerja Bayu seperti ini terus, ia berpotensi menjadi partner di biro hukumnya. Sebuah loncatan karir yang luar biasa. Namun satu nilai minus dari Daisy adalah bahwa perempuan ini jauh lebih pintar dari Rani. Ia bisa saja mencium kebiasaan buruk Bayu yang senang berselingkuh. Rasanya Bayu belum siap untuk menanggalkan kebiasaannya itu. Tapi, no pain no gain. There’s a will there’s a way. Pikirnya. Ia pun mematikan puntung rokok di tangannya. Dalam kepalanya tergambar jelas keputusan yang telah ia ambil. Ia yakin inilah keputusan yang terbaik buatnya. Segera ia memencet sebuah nomor yang sangat ia kenal.
“Halo…” Sapa suara di ujung telepon.
“Halo sayang….” Balas Bayu mesra.
***

No comments: