December 3, 2007

Tom dan Emily

Cerpen Dewi Fatmawati

'Tidak Tom, aku tidak mau mengulang-ngulang soal ini. Kamu sudah tahu pendapatku. Aku tidak ingin kita menikah dan memiliki anak. Aku ingin hubungan kita tetap seperti ini. Tidak perlu ada yang berubah. Bukankah ini yang dulu kita sepakati?' tegas Emily dari dalam kamar mandi.
Tom terdiam. Matanya memandang Emily yang keluar dengan mengenakan handuk.
'Mengapa diam, Tom? Kamu tidak setuju denganku?
Ada yang salah? Kamu menemukan perempuan lain?' tanya Emily sembari memilih satu di antara deretan gaun di lemarinya.
'Ohh please, Emily, kamu jangan melarikan masalah ini ke hal bodoh seperti itu' kata Tom kesal.
'Hal bodoh? Mana yang lebih bodoh, menikah dan mempunyai anak atau memiliki affair, hah? Dan jangan kamu kira aku lupa affairmu dengan siapa itu, pemilik butiq tas itu,' tegas Emily sembari memandang Tom.
Tom menggeleng. Menarik napas dalam-dalam. 'Itu bukan affair, Emily. Aku sudah katakan itu berkali-kali kepadamu.' tekannya.
'Itu pembelaanmu selalu. Tapi aku perempuan, aku tahu itu affair atau bukan' kata Emily mengamati Tom dari cermin.
'Aku ingin tahu rasanya memiliki anak,'kata Tom pelan.
'Apa? Cerita apa lagi ini? Kita tidak ada waktu untuk mengurusi anak. Dan aku tidak yakin kita akan menjadi orang tua yang baik buat anak kita.' Kata Emily sembari menyapu blush on di pipinya.
'Kita belum mencobanya.' kata Tom
'Sudahlah, aku harus pergi. Tidak ada gunanya membicarakan soal ini. Aku akan ke rumah Jenny. Malam ini ia mengadakan pesta di tempatnya. Kamu yakin tidak tertarik?' ajak Emily.
Tom menggeleng.
---

'Hai Tom, ada masalah?' tanya Mark. Mereka baru saja berlatih basket bersama pada setiap jumat sore sepulang bekerja.
'Ya, sedikit. Dengan Emily.' jawab Tom pelan. Ia menyeka peluh di wajahnya.
'Wajarlah, namanya pasangan, pasti ada saja masalahnya.'
Hibur Mark sembari meminum air mineral.
'Ya, tapi keadaan kita berbeda. Kami tidak menikah dan tidak memiliki anak. Dulu aku berpikir keadaan seperti inilah yang paling cocok denganku. Aku mencintai Emily, begitu pula sebaliknya. Aku bekerja, Emily bekerja. Hidup kami tenang tanpa diganggu oleh masalah anak. Tapi kini aku merasa bosan dengan keadaan ini.
Aku ingin sesuatu yang lain'
'Apa itu?' tanya Mark
'Menikah, mempunyai anak.
Aku iri sama kamu dan Indah. Kulihat kalian sangat bahagia. Terlebih melihat Alysa yang sangat menggemaskan. Apa yang membedakan Indah dengan pacar-pacarmu sebelumnya?' tanya Tom penuh keingintahuan.
Mark tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia berpikir sejenak, 'Aku tidak pernah membandingkan dia dengan perempuan lain. Sejak aku bertemu dengannya aku yakin dialah perempuan yang cocok untukku.'
'Mengapa kamu akhirnya memutuskan menikah dengannya?' tanya Tom lagi.
'Karena itu yang paling tepat untuk kami. Aku mencintai Indah dan aku ingin membuatnya bahagia. Caranya dengan menikahinya. Mengenal keluarganya. Aku sendiri tidak pernah menyangka, aku yang berasal dari belahan bumi lain akan bertemu istriku di sini, di pulau ini. Hanya karena sebuah holiday mampu merubah hidupku. Hidup kami.'
'Hmmm.' guman Tom, 'Aku salut sama kamu. Perubahan di dirimu begitu nyata. Aku lihat kamu semakin dewasa. Sementara aku masih begini. Tidak ada perubahan.'
'Tenanglah,' hibur Mark sembari menepuk pundak Tom,' Semua ada waktunya. Ketika kamu sampai pada titik jenuh, pada saat itulah kamu akan disodorkan pertanyaan mendasar, apa yang sebenarnya kamu inginkan dalam hidupmu.'
'Aku rasa aku sudah sampai pada titik itu.
Aku jenuh dengan hubungan kami. Aku kini ingin hidupku stabil, dimana aku dapat menghabiskan waktu bersama istri dan anak-anakku. Mungkin tidak dengan Emily karena ia tidak mau,' katanya dengan tatapan menerawang.
'Santai Tom. Kamu mesti memikirkan keinginanmu itu dalam-dalam. Menikah berbeda dengan tinggal bersama dan tidak selalu menyenangkan. Ketika ada masalah kamu bisa meninggalkan pacarmu kapanpun kamu mau, tapi kamu tidak bisa lakukan itu ketika kamu sudah menikah, apalagi kalau kamu sudah memiliki anak.'
'Ya, aku tahu.' kata Tom.
---

Tiga jam mata Tom terpicing di atas tempat tidur. Ia menunggu Emily pulang. Dirinya sudah tidak sabar ingin membicarakan semuanya dengan kekasih yang telah menemaninya selama setahun ini. Menjelang pukul dua dini hari, ia mendengar deru mobil Emily memasuki pagar rumah. Kemudian langkah-langkah sepatu samar terdengar. Daun pintu kamar tidur pun terbuka. Dalam kegelapan Tom melihat Emily meletakkan tas, melepas pakaian dan masuk ke ruang wastafel. Tidak berapa lama perempuan itu keluar mengenakan gaun tidur menuju ke pembaringan di sisi Tom.
'Emily' panggil Tom.
'Kamu belum tidur?' tanya Emily terkejut mengetahui Tom masih terjaga.
'Ada yang kuingin bicarakan denganmu. Kupikir kita harus memikirkan hubungan kita. Aku ingin break.' kata Tom di tengah kegelapan kamar.
Emily yang siap menyelimuti dirinya, mengurungkan niatnya, 'Break? ' tanyanya heran. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Tom mencari matanya,'Aku mencium kau punya affair, siapa perempuan itu, asing atau Indonesia?’ tanyanya mencoba memastikan firasatnya.
Tom jengah. Ia bangun. Mencari dan menyalakan rokoknya, menghirup dalam-dalam dan mengepulkannya. Wajahnya tampak kesal. 'Hentikan kecurigaanmu, Emily. Ini bukan soal perempuan.
Aku hanya ingin kita sementara break dulu. Aku ingin sendiri.' katanya sembari berdiri di sisi tempat tidur dan memandang Emily.
Emily pun berdiri meraih tas tangannya dan mengambil sebungkus rokok. Menyalakannya sebatang. Wajahnya terlihat lelah. Matanya berat digelayuti kantuk.
'Sendiri? Aku tidak percaya!' katanya sembari mengepulkan asap,' Kau yakin tidak tergoda dengan perempuan sini?
Yang begitu mendambakan bersuamikan lelaki asing, yang hanya menginginkan uangmu? Yang berharap bisa keluar dari negeri miskin ini dan tinggal di negara kita. Mereka mencari green card! Jangan naif, Tom!’ Katanya gusar dengan muka merah padam.
'Hentikan xenophobiamu itu! Tidak semua perempuan di sini bermotif buruk seperti yang ada dalam pikiranmu' kata Tom dengan nada tinggi.
'Itu fakta. Kamu bisa tahu mata mereka hijau ketika melihat lelaki asing! Air liur mereka menetes tiap kali memandang ekspat! Kamu tidak bisa membantah itu.' Balas Emily tidak kalah dengan nada tinggi sembari menatap Tom tajam.
'Ya, kamu benar. Ada perempuan seperti itu, yang mencari materi. Tapi kamu juga tahu, kalau banyak lelaki asing brengsek yang memanfaatkan perempuan-perempuan itu, yang hanya mengejar tubuh mereka.' kata Tom
'Cis , kamu tidak mabuk?' tanya Emily sinis
'Aku tidak pernah minum lebih dari tiga bulan ini. Dan bagaimana dengan kamu? Kamu masih selalu simpan botol minuman di dalam tasmu, bukan? Emily dengar, dunia di sekitar kita memang gila, tapi masih ada orang-orang normal, mereka adalah orang-orang yang baik yang masih percaya pada cinta yang tulus, yang tidak memandang asal-usul mereka.' jelas Tom .
'Apa ini? Apa yang terjadi denganmu Tom? Apa yang membuatmu berubah menjadi menjijikan seperti ini?' dengan mimik tidak percaya.
'Aku memang berubah. Apakah aku salah bila berubah? Manusia berubah, bukan? Aku ingin menikah dan memiliki anak. Itu saja.' kata Tom pelan.
'Ah! itu masalahnya rupanya! Katakan, siapa perempuan itu?' Tanya Emily dengan wajah layaknya pemenang, yang berhasil menemukan clue atas puzzle yang coba ia pecahkan.
'Hentikan paranoidmu itu, Emily!.
Aku tidak punya perempuan lain. Oh, please, kurasa kamu memang tidak akan pernah mengerti. Kita tidak akan pernah cocok. Aku yakin itu. Kita putus, Ok?' kata Tom mengangkat tangan. Menyerah. Keluar kamar.
'Tom!' panggil Emily. Yang dijawab oleh deru motor Tom keluar pagar. Meninggalkan keheningan. (031207)

1 comment:

me said...

Hai kk dewi...
Pa kabar? Wah, cerpennya belum ada yg baru lagi nih? Hehehe, koq jadi kaya'nagih kerjaan ya?
abis gue buka beberapa kali, eh blom ada yg baru juga.

Gue suka sama Tom & Emily, menunjukkan konflik soal pandangan orang muda tentang membina keluarga itu bisa terjadi pada semua pasangan. Btw, lo sekarang udah di tahapan yang mana? Udah sampe tahap 'Tom & Emily,' atau baru tahap 'Perjalanan Ini'? hehehe....

Miss u Mbak.