'Adik tidak apa ?' Sapa lelaki tua yang melihat ke arahku. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Ia adalah nahkoda kapal motor ini. Kulitnya hitam dengan rambut putih di kepala dan kumis serta janggutnya. Aku kerap melihatnya tatkala menumpangi kapal ini.
'Tidak apa, Pak' Kucoba menjawab setenang mungkin. Tapi jujur, suaraku terdengar bergetar.
‘Sepertinya adik tidak sehat?’ Tanyanya lagi dengan mata yang terus menatapku. Cemas.
Aku mencoba tersenyum. Aku mengalihkan pandang ke laut lepas. Menghindari tatapan matanya.
‘Dik?’ Panggilnya. Aku terdiam. Tidak mampu melawan tatapan matanya.
‘Adik ingat seseorang?’ Aku menggeleng. Tidak dapat berkata sepatahpun. Tenggorokanku tercekat. Mataku tiba-tiba berat disesaki oleh air. Aku benci diriku bila sedang jatuh cinta. Aku berubah menjadi cengeng.
‘Jangan sedih, Dik. Tapi berbahagialah bila masih memiliki kesempatan mencintai seseorang.’
Aku melihat wajahnya. Terkejut. Dari mana ia tahu tentang perasaanku.
‘Bapak bisa tahu dari matamu. Itu adalah mata yang merindu seseorang.’ Lanjutnya, seperti dia tahu suara hatiku.
‘Apa yang Adik rasakan sekarang?’
‘Saya takut, Pak.’ Kata-kata tiba-tiba meluncur dari mulutku tanpa dapat kukendalikan. Aku menjadi begitu polos di hadapan lelaki tua ini.
‘Takut dengan apa?’ Tanyanya sembari mengatur kemudi. Wajahnya tenang menatap jauh ke laut lapas.
‘Takut akan banyak hal. Takut kecewa lagi. Takut mengalami kegagalan, kekecewaan.”Jelasku panjang.
“Itu wajar bukan? Setiap manusia untuk dapat merasakan kebahagiaan dia harus merasakan kesedihan. Manusia yang berani harus mampu menghadapi rasa takutnya. Lalu apakah ketakutan terbesarmu?”
“Saya takut orang-orang tahu bahwa saya adalah petani miskin yang tinggal di desa tandus. Saya jarang melihat mereka karena tidak tega menemui wajah-wajah yang memelas.”
Lelaki itu terdiam. Memandangiku.
“Dik, mengapa kamu memperlakukan dirimu setega itu? Bagaimana mungkin kamu memandang dirimu dari sudut dimana tidak terlintas dalam pikiran orang-orang. Mereka tidak melihatmu dari sisi tersebut, sebaliknya mereka melihatmu sebagai sosok perempuan yang tangguh, cerdas dan berani.”
“Benarkan itu, Pak? Tidakkkan mereka ingin tahu siapa saya sebenarnya? Darimana saya berasal?” Tanyaku tidak percaya.
“Tentu saja ada yang ingin tahu, tapi apa pedulimu terhadap keingintahuan mereka. Tidak perlu semua hal kamu penuhi, terlebih hal-hal yang tidak penting menurutmu.”
“Tapi, saya tidak bisa lepas dari perasaan rendah diri.”
“Dik, maafkanlah dunia yang tidak selalu berlaku adil terhadapmu. Seringkali orang-orang memandang apa-apa yang tampak dari luar. Seolah bungkus atau penampilan luar yang menjadi ukuran isi di dalamnya. Semua itu melahirkan manusia-manusia yang tampak kokoh di luar, tapi rapuh di dalam. Bapak sering menemukan orang–orang seperti itu. Sebagian dari mereka berhasil menemukan kembali kepercayaan diri yang hilang, tertutup oleh debu tebal dalam diri mereka. Lalu mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan bersedia menerima kelebihan dan kekurangan dirinya. Namun sebagian lagi tetap terkurung dalam perangkap itu. Mereka pun tumbuh menjadi manusia yang penakut hingga akhir hayat mereka. Apakah adik ingin seperti itu? Ini saatnya bagi dirimu untuk memaafkan dan berdamai dengan semuanya.”
“Dik, akuilah kalau kau memang mencintainya. Tidak perlu khawatir dengan tanggapannya. Aku percaya dia menyayangimu juga.”
“Dari mana Bapak tahu bahwa dia menyayangiku, Pak?
“Siapa yang tidak dapat menyayangimu? Kau gadis yang hebat.” Katanya meyakinkan.
“Memang tidak ada.” Kataku tidak acuh.
“Itu tidak benar. Banyak orang yang menyayangimu, sahabat-sahabatmu, keluargamu.”
“Tapi laki-laki yang saya sayangi tidak memberikan respon yang kuharapkan.”
“Mereka tidak mengerti apa yang mereka lewatkan.”
“Mengapa Bapak terus membesarkan hati saya?”
“Karena kau memang baik, tanpa harus dipuji oleh siapapun. Hanya waktu belum menunjukkan kepadamu betapa kamu layak dicintai dengan sangat besar oleh seorang pria.”
“Benarkan itu, Pak?”
“Tentu saja. Lihatlah dirimu kini. Kau seorang yang sukses, berhasil menyelesaikan pendidikanmu, dapat bekerja di kantor yang hebat dengan jabatan yang membanggakan. Seorang peneliti luar biasa, bukan?” Tanyanya sembari tersenyum.
“Namun, saya tetap orang yang kesepian. Semua itu tidak ada harganya dibandingkan dengan keadaan saya kini. Tidak ada pria yang mencintai saya”. Kataku sedih.
“Dik, mungkin pengalamanmu selama ini dengan pria memang belum ada yang berhasil. Pria-pria itu tidak pernah tahu apa yang mereka lewatkan dengan meninggalkanmu. Jangan salahkan dirimu, ini masalah mereka. Aku pernah mendengar seorang pengarang besar mengatakan, semua kisah cinta adalah sama. Hanya prianya yang berbeda. Setiap cinta yang hadir selalu membangkitkan harapan-harapan baru juga mimpi-mimpi baru. Lupakanlah pria-pria sebelumnya. Berilah kesempatan pada si pria yang kini ada di hatimu.”
Aku terdiam. ada kebimbangan. Tapi aku juga kagum dengan lelaki tua ini. Dia begitu luas wawasannya. Aku pandangi baik-baik lelaki ini. Wajahnya tetap tenang dan matanya menyiratkan keyakinan. Dia pun melihatku.
‘Ayo, bukalah pintu hatimu. Beri kesempatan baginya’. Bujuknya.
Ada sebuah momen yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Seolah beban yang selama ini menghimpitku perlahan terangkat dan pergi meninggalkanku. Sesuatu sedikit demi sedikit muncul dalam diriku. Rasa percaya bahwa aku mampu menyayangi orang lain, karena kini aku telah menemukan diriku yang selama ini hilang. Diri yang selama bertahun-tahun tertutup oleh bagian lain. Yaitu rasa tidak percaya diri. Rasa bahagia bercampur dengan kesedihan tumpah ruah di hatiku. Akupun teringat padamu. Sedang apa kamu disana? Aku membutuhkan seseorang untuk dapat mendengar pengakuannya. Dan kamulah orang yang tepat.
‘Aku akan katakan padanya bahwa aku cinta dia, Pak.’ Kataku mantap pada lelaki itu yang kini tersenyum. Matanya berbinar. Bahagia. (181207)
2 comments:
hi !!!
new story..?? nice!!
hope you are ok..
take care
Hai defa
Terus menulis ya... biar gak jadi robot dan tenggelam dalam pekerjaan yang rutin.
Post a Comment