April 20, 2008

Orang Prancis Pelit ?

Sebelum bekerja di sekolah, beberapa orang sempat bilang kalau orang Prancis itu pelit. Baru katanya. Kini hampir delapan bulan saya bergaul dan mengenal karakter mereka. Saya tergelitik untuk menguji hipotesa di atas.

Apakah -pelit atau tidak pelit –nya seseorang itu penting? Apakah –pelit tidak pelit- memiliki relasi dengan -baik atau tidak baik- dari seseorang? Apakah indikator dari orang yang pelit? Saya tidak bisa mengeneralisir bahwa orang dari suatu negara itu pelit atau tidak, sebab saya tidak punya pengalaman bekerja dengan orang asing lain. So, saya tidak bisa bilang ya atau tidak untuk pertanyaan di atas.Tapi untuk sekadar sharing pengalaman boleh juga sih.

Di sini, memang jarang orang Prancis yang suka memberi sesuatu. Mungkin memang bukan tradisi mereka bagi-bagi sesuatu. Dibandingkan mereka, umumnya, orang-orang Indonesia memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi. Senang memberi. Tidak ada salahnya saling memberi, yang bahaya adalah bila pemberian itu berasal dari hasil korupsi dan untuk motif tertentu. Misalnya serangan fajar menjelang pemilihan lurah atau pejabat.

Dari situ kita bisa tahu bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki tradisi dan kebiasaan yang berbeda. Kita tidak bisa menghakimi kebiasaan yang ini salah atau yang itu benar. Karena semua itu relative (kecuali tradisi yang merugikan orang lain). Nah, karenanya saya harus tahu diri dimana saya berada kini. Mencoba berpikir positif terhadap perbedaan kebiasaan ini.

Suatu ketika, saya sempat surprise waktu kepala sekolah memberi kami oleh-oleh sepulang workshop dari luar negeri. Wah tumben nih, pikir saya. Sebelum berangkat, dia memang sempat diingatkan teman-teman untuk tidak lupa membawa oleh-oleh. Awalnya dia tidak tahu Indonesian’s tradition ini. Lama-lama, dia mengerti juga, mungkin karena diberitahu oleh Istrinya, yang orang Indonesia.

Perbedaan tradisi dan kebiasaan Prancis dan Indonesia, bisa terlihat dari pengadaan acara kumpul-kumpul dengan teman. Bila seseorang mengundang teman-teman untuk datang, maka menjadi kebiasaan orang-orang yang diundang untuk membawa sesuatu. Ibaratnya tanggung renteng. Mulai dari membawa hidangan sampai dengan merapikan dan membersihkan peralatan. Karena kemandirian (mereka banyak tidak memiliki pembantu), maka susah senang dijunjung sama-sama. Kalau seperti ini, bagus kan?

Kebiasaan menanggung bersama-sama juga terlihat ketika sekolah mengadakan pesta, baik natal, karnaval atau akhir tahun. Komite pesta biasanya mengirimkan surat kepada setiap orang tua murid guna meminta bantuan mereka membawakan makanan seadanya. Kalau setiap anak membawa makanan, maka itu cukup untuk dinikmati bersama-sama. Jadi sekolah diuntungkan, karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makanan.

Jadi pelit tidak pelit itu relatif dari sudut mana dilihat. Bagi saya, meski mereka tidak pernah memberi apa-apa, itu tidak masalah. Rasa sayang dan saling menghargai tidak selalu harus dengan memberikan barang. Seorang teman tetap dapat dianggap sebagai teman sejati meski ia jarang memberi hadiah, tapi dapat dengan selalu mengucurkan dukungan dan semangat (kayaknya kenal deh, saya bukan, ya?) Seorang bos juga bisa tetap dapat dianggap sebagai bos yang baik, bila ia selalu perhatian dengan stafnya. Dengan cara menghargai setiap jerih payah yang telah ditunjukkan.

Dan ini yang paling penting. Banjir hadiah akan menjadi banjir air mata bila semua itu berasal dari uang haram. Tapi bentuk perhatian yang tulus, akan menjadi sumber energi yang luar biasa untuk bekerja secara optimal.

1 comment:

la vie said...

hello Defa,

Wah, issue ini dah sejak lama aku dengar..
Hmmm...ternyata Defa sudah mengobservasinya langsung ya.. Syukur deh, akhirnya aku sadar, tak selamanya pertemanan yang baik itu identik dengan pemberian ato buah tangan..

-miss you
lr