October 14, 2007

Jo kesal

Kemarin Jo tidak masuk sekolah dan hari ini dia datang terlambat. Wajahnya terlihat kesal. Kami semua tercengang. Kami tidak heran kalau Jo datang terlambat sebab dia sering terlambat dan selalu kesal waktu sampai di sekolah, apalagi kalau ada tes menulis. Yang membuat kami tercengang adalah sewaktu guru kami memberikan senyum lebar kepada Jo dan berkata kepadanya.

‘Wah Selamat Jo, kamu seharusnya senang, bukan?’

Kami menjadi semakin terheran-heran sebab ibu guru bersikap baik terhadap Jo (Ibu guru sangat cantik dan selalu baik terhadap siapapun), tapi dia tidak pernah memberikan selamat. Tapi itu tidak membuat senang Jo yang wajahnya masih tampak kesal. Jo pun duduk di kursinya, di samping Max. Kami semua memperhatikan Jo, tapi ibu guru segera memukulkan penggaris ke mejanya dan bilang supaya kami tetap berkonsentrasi dan mengerjakan tugas kami menyalin tulisan yang ada di papan tulis tanpa ada kesalahan.

Dan kemudian aku mendengar suara Jef yang duduk di belakangku. ‘Beritahu yang lain! Jo punya adik!’

Pada saat istirahat, kami semua berkumpul mengelilingi Jo yang bersandar di tembok. Tangannya dimasukkan ke dalam kantong. Kami menanyakan apakah benar dia punya adik.

‘Yeah, aku punya.’ kata Jo. ‘Kemarin pagi papa membangunkan. Ia telah berpakaian lengkap dan tidak bercukur. Papa tertawa dan menciumku. Ia bilang kalau semalam aku mempunyai adik. Terus papa menyuruhku berpakaian dengan cepat dan kami pergi ke rumah sakit. Disana ada mama yang sedang tidur. Wajahnya tampak gembira seperti papa. Di samping tempat tidur mama, ada adikku.’

‘Tapi kenapa kamu kelihatan tidak senang?’ tanyaku

‘Kenapa aku harus senang ? tanya Jo. ‘Pertama, adikku jelek seperti bayi yang lain. Kecil, merah dan menangis terus, tapi semua menganggapnya lucu. Sedangkan, kalau aku teriak sedikit saja di rumah, semua orang segera manyuruhku diam. Dan papa akan bilang aku bodoh dan aku bisa memecahkan gendang telinganya.’

‘Yeah, aku tahu. Kata Rufus. ‘Aku juga punya adik dan itu selalu manimbulkan masalah. Dialah anak kesayangan dan boleh melakukan apa saja. Dan kalau aku pukul, dia akan bilang ke papa mama dan setelah itu aku dilarang menonton film hari kamis.’

‘Aku, kebalikannya’, kata Eudes. ‘Aku punya kakak dan dialah anak kesayangan orang tuaku. Dia bilang kalau aku yang membuat masalah, dia boleh memukulku, dia boleh menonton tv hingga larut, dan dia boleh merokok.’

‘Sejak ada adikku, mereka mengejarku setiap saat.` Kata Jo. ‘Di rumah sakit, mama ingin aku mencium adikku. Aku, tentu saja tidak mau. Tapi aku terpaksa melakukannya. Dan papa segera berteriak supaya aku hati-hati karena aku akan menjatuhkan ranjangnya dan ia tidak pernah melihat anak sebesar aku yang tidak bisa apa-apa.’

‘Apa yang dimakan oleh bayi waktu kecil mereka kecil ?’ Tanya Alceste

‘Sesudahnya, kata Jo, ’Kami pulang ke rumah. Aku dan papa sedih tanpa mama di rumah. Apalagi waktu papa menyiapkan makan. Dan dia marah karena dia tidak menemukan pembuka kaleng. Dan kemudian kami hanya makan sarden dan kacang polong. Dan pagi ini, untuk sarapan papa berteriak di sampingku karena susunya meluap waktu dipanaskan.’

‘Dan kamu akan lihat nanti, kata Rufus. Pertama-tama, waktu mereka membawa bayi pulang ke rumah, dia akan tidur di kamar orang tuamu. Tapi sesudahnya, mereka akan menaruhnya di kamarmu. Dan setiap kali dia menangis, mereka pikir kalau kamu yang menggangunya.

‘Aku, kata Eudes, kakakku yang tidur di kamarku dan itu tidak terlalu menggangguku. Kecuali waktu aku kecil dan itu sudah lama sekali si tolol itu senang membuatku takut.’

‘Oh tidak.` Teriak Jo. ‘Itu tidak bolah terjadi. Dia tidak boleh tidur di kamarku. Kamar itu punyaku. Dia harus mencari kamar lain kalau dia ingin tidur di rumah.’

‘Kalau orang tuamu bilang dia harus tidur di kamarmu, dia akan tidur disana. Titik.’ Kata Max

‘Tidak tuan…tidak tuan.’ Teriak jo. ‘Dia akan tidur dimanapun dia mau, tapi tidak di kamarku. Aku akan menguncinya. Aku tidak bercanda.’

‘Itu enak? sarden dengan buncis?’ Tanya Al

‘Kemarin Siang papa mengajakku ke rumah sakit. Disana ada paman Oktave, tante Edith dan tante Lydie. Semua orang bilang kalau adikku sangat mirip dengan papa, mama, paman Octave, tante Edith, Tante Lydia dan bahkan aku. Terus mereka bilang kalau aku harus senang. Dan sekarang aku harus jadi anak baik. Membantu mama dan belajar baik di sekolah. Terus papa ingin kalau aku berusaha, sebab sampai sekarang ini anak pemalas. Dan harusnya aku menjadi contoh untuk adikku. Dan sesudahnya, mereka tidak memperdulikanku lagi, kecuali mama, yang menciumku dan bilang kalau dia menyayangiku, sama seperti dia sayang sama adikku.’

‘Dengar, teman-teman’ Kata Jef. ‘Bagaimana kalau kita main bola sebelum istirahat selesai?’

‘Tunggu!’ Kata Rufus. ‘Kalau kamu ingin bermain dengan temanmu, orang tuamu akan menyuruhmu tinggal di rumah untuk menjaga adikmu.’

‘Yang benar? Kalian tidak bercanda? Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Orang tidak perlu mangurusnya,’ kata Jo? ‘Aku akan pergi kapanpun aku mau.’

‘Itu akan menjadi masalah.’ Kata Rufus. ‘Nanti mereka akan bilang kalau kamu iri.’

‘Apa? Teriak Jo. ‘Yang benar saja’

Lalu Jo mengatakan pada temen-temannya, kalau ia tidak iri. Tidak baik mengatakan seperti itu. Kalau dia tidak mau menjaga adiknya, itu karena dia tidak suka orang-orang membuatnya kesal dan menaruhnya di kamarnya dan melarangnya main dengan teman-temannya. Dan kalau mereka terus membuatnya kesal, ia akan meninggalkan rumah dan semua orang menjadi kesal dan mereka harus menjaga Léonce mereka. Dan semua orang akan menyesal waktu ia pergi, apalagi waktu papa mama tahu kalau ia talah menjadi kapten di kapal perang dan punya banyak uang. Dan lagi Ia merasa telah cukup di rumah dan di sekolah dan ia juga tidak butuh siapapun dan itu membuatnya benar-benar senang.

‘Siapa itu Léonce ?’ tanya Clotaire

‘Itu nama adikku’ jawab Jo

‘Nama yang aneh’ kata Clotaire

Lalu Jo segera mendorong Clotaire dan memberinya beberapa pukulan, sebab ia pernah bilang kalau satu hal yang ia tidak ijinkan adalah ketika kami menghina keluarganya.

No comments: